Banjarnegara (Humas) – Menyadari derasnya arus teknologi yang tidak terhindarkan, Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Pagentan, Banjarnegara, mengambil langkah proaktif untuk memperkuat benteng moral dan etika anak usia dini. Fokus kali ini menyasar langsung ke jantung pembentukan karakter: para orang tua.
Melalui kegiatan Bimbingan Penyuluhan (Bimluh) yang digelar pada Rabu (26/11/2025), KUA Pagentan menjalin sinergi dengan lingkungan pendidikan anak usia dini. Bertempat di aula KB Tunas Harapan Majasari, sebanyak 21 wali siswa menjadi peserta kunci dalam diskusi yang membahas isu krusial di era digital.
Penyuluh Agama Islam Fungsional KUA Pagentan, M. Syaiful Abidin, memimpin sesi ini dengan mengangkat tema yang menggugah, “Pengaruh Gawai Terhadap Etika Anak Kepada Orang Tua”. Syaiful Abidin tidak hanya memaparkan potensi bahaya, tetapi juga menawarkan strategi praktis bagaimana teknologi, khususnya gawai, dapat dikelola agar tidak mengikis nilai-nilai luhur dan adab anak terhadap orang tua.
Dalam penjelasannya, Syaiful Abidin menegaskan kembali filosofi mendasar dalam pendidikan Islam: orang tua adalah ‘madrasah’ (sekolah) yang utama dan pertama. Ia mengingatkan bahwa secanggih apa pun teknologi, pembentukan karakter dan etika tetap berada di tangan orang tua. Gawai, lanjutnya, bukanlah musuh, melainkan sebuah alat yang penggunaannya wajib diawasi dan diarahkan.
“Gawai bukanlah hal yang salah, tetapi cara penggunaannya yang harus diperhatikan. Mari belajar menggunakan gawai dengan baik, sambil tetap menghormati dan menghargai orang tua sebagai bentuk bakti dan kasih sayang,” tegas Syaiful, menekankan pentingnya adab (etika) sebagai fondasi utama.
Inti dari penyuluhan ini adalah mencapai keseimbangan antara literasi digital dan penanaman etika Islam. Anak-anak didorong untuk melihat gawai sebagai sarana belajar dan kreativitas, bukan sebagai pengganti interaksi sosial, komunikasi tatap muka, dan terutama, bukan sebagai alasan untuk mengabaikan perintah atau berbuat tidak sopan kepada orang tua.
Sambutan positif datang dari pihak sekolah. Subekti, Kepala KB Tunas Harapan Majasari, menyoroti betapa mendesaknya isu ini. Menurutnya, tantangan terbesar pendidikan saat ini adalah menjaga agar fondasi etika anak tidak tergerus oleh kecanduan gawai.
“Kami sangat berterima kasih. Pendidikan etika adalah fondasi, dan jika fondasi ini tergerus oleh kecanduan gawai, masa depan anak-anak kita akan terancam,” ujar Subekti. Ia berharap, penyuluhan ini dapat mendorong orang tua untuk menjadi teladan yang baik dan mengambil peran aktif dalam mengontrol konten dan durasi penggunaan gawai oleh anak.
Sesi diskusi berlangsung hidup, menunjukkan tingginya kegelisahan dan antusiasme para wali siswa. Mereka mengajukan berbagai pertanyaan praktis mengenai pembatasan gawai pada anak usia dini. Kegiatan ini ditutup dengan komitmen bersama antara KUA Pagentan, pihak sekolah, dan wali siswa untuk terus bersinergi, memastikan lahirnya generasi yang cerdas teknologi, namun tetap berakhlak mulia dan menjunjung tinggi adab kepada orang tua dan guru. Kemitraan ini diharapkan menjadi model dalam menangkal dampak negatif globalisasi digital di tingkat komunitas.
(msa/ azd)







