Banjarnegara (Humas) – Majelis Taklim (MT) Miftahul Jannah di Bulu Pagentan, Kecamatan Pagentan, menjadi saksi berlangsungnya kegiatan bimbingan penyuluhan agama yang kaya akan refleksi spiritual. Acara yang dihadiri oleh 35 anggota majelis taklim tersebut digelar pada hari Jumat (4/12/2025) bertempat di Gedung TPQ Al Hikmah Bulu Pagentan. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman keagamaan, khususnya mengenai esensi dari doa yang paling sering dilafalkan umat Islam.
Penyuluhan kali ini disampaikan langsung oleh Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Pagentan, M. Syaiful Abidin. Mengangkat sebuah tema yang tampaknya sederhana namun mengundang perenungan mendalam: “Mengapa Orang Islam Masih Berdoa Ihdinash Shiratal Mustaqim (Ya Allah Berilah Kami Petunjuk Jalan yang Lurus)?”
Syaiful Abidin mengawali paparannya dengan menegaskan bahwa permintaan petunjuk jalan yang lurus—yang merupakan bagian tak terpisahkan dari surah Al-Fatihah dan dibaca dalam setiap salat—sama sekali tidak menunjukkan keraguan atau fakta bahwa seorang Muslim telah tersesat. Sebaliknya, Syaiful menjelaskan bahwa doa tersebut merupakan manifestasi dari dua prinsip penting dalam konsep hidayah.
“Doa Ihdinash Shiratal Mustaqim adalah pengakuan akan kebutuhan abadi manusia terhadap bimbingan Ilahi,” ujar M. Syaiful Abidin. Ia menekankan bahwa hidayah memiliki sifat bertahap dan bertingkat. Prinsip ini mengajarkan bahwa meskipun seorang Muslim telah menerima hidayah dasar, seperti keimanan (Islam), ia harus terus memohon agar hidayah tersebut dipertahankan, ditingkatkan kualitasnya, dan diperluas cakupannya dalam setiap aspek kehidupan. Hidayah bukanlah pemberian tunggal yang selesai seketika, melainkan proses penyempurnaan spiritual yang berkelanjutan. Doa ini menjadi jembatan bagi seorang Muslim untuk memohon keistiqamahan (keteguhan) agar selalu berada di jalur yang diridai Allah SWT.
Respon positif datang dari para peserta yang merasa wawasan keagamaan mereka diperkaya. Septiana Puji Rahayu, Ketua MT Miftahul Jannah, menyampaikan apresiasi yang tinggi atas materi yang disampaikan.
“Penjelasan dari Bapak Syaiful Abidin sungguh membuka mata kami semua. Kami kini memahami bahwa mengucapkan Ihdinash Shiratal Mustaqim adalah tentang memohon kesinambungan dan peningkatan kualitas iman kami,” kata Septiana. “Hal ini memperjelas bahwa menjadi Muslim yang baik merupakan sebuah perjalanan spiritual seumur hidup.”
Kegiatan penyuluhan agama semacam ini diharapkan dapat terus menjadi agenda rutin KUA Pagentan dan Majelis Taklim Miftahul Jannah. Tujuannya adalah agar anggota majelis taklim tidak hanya sekadar melafalkan doa, tetapi benar-benar menginternalisasi maknanya, menjadikannya pendorong untuk terus berbenah diri, dan menjaga konsistensi dalam beribadah. Sesi tanya jawab yang hangat menutup acara, menandakan tingginya antusiasme peserta untuk mendalami ajaran Islam.
(msa/ azd)







