Banyumas – MTs Negeri 3 Banyumas menggelar kegiatan Workshop Pembelajaran Mendalam dan Kurikulum Berbasis Cinta pada Selasa (9/12). Dalam kegiatan tersebut, Hj. Yuniyati, guru Matematika sekaligus Wakil Kepala Madrasah Bidang Kurikulum MTs Negeri 1 Banjarnegara, tampil memukau sebagai narasumber utama. Workshop yang diikuti oleh puluhan guru dari berbagai mata pelajaran ini menjadi ruang inspiratif untuk memperkuat praktik pembelajaran yang asyik, kreatif, dan berorientasi pada cinta kepada peserta didik.
Kehadiran Hj. Yuniyati mendapat sambutan positif dari para guru maupun pimpinan madrasah. Dengan materi bertajuk “Teknik Mengajar Asyik, Kreatif, dan Unik”, beliau mengajak peserta untuk melihat pembelajaran bukan sekadar kegiatan menyampaikan materi, tetapi sebagai proses memfasilitasi penemuan, membangun rasa aman, dan menghidupkan motivasi belajar siswa.
Kepala MTs Negeri 3 Banyumas dalam sambutannya mengungkapkan rasa syukur dan apresiasinya atas kesediaan Hj. Yuniyati menjadi pemateri. Ia menilai bahwa materi yang dibawakan sangat relevan dengan kebutuhan guru di era perubahan kurikulum.
“Kami merasa sangat beruntung karena Ibu Hj. Yuniyati bersedia hadir. Beliau bukan hanya seorang pendidik berprestasi, tetapi juga praktisi pembelajaran yang mampu menghadirkan pendekatan penuh cinta, sesuai dengan visi kurikulum madrasah kami. Guru-guru perlu mendapat asupan semacam ini, agar kelas semakin hidup dan siswa makin bahagia belajar,” ujarnya.
Dalam pemaparannya, Hj. Yuniyati memperkenalkan berbagai teknik, mulai dari Exit Ticket Unik, Analogy Game, Gamifikasi 5 Menit, Mind Mapping 3 Menit, hingga praktik Micro-Teaching 5 Menit. Seluruh teknik dikembangkan dari konsep besar Kurikulum Berbasis Cinta, yaitu pembelajaran yang menghubungkan logika dengan nilai-nilai kemanusiaan dan spiritual.
Hj. Yuniyati menegaskan bahwa pembelajaran mendalam hanya mungkin terjadi jika guru mampu menghadirkan suasana yang aman dan menyenangkan bagi peserta didik.
“Mengajar itu bukan soal seberapa banyak materi kita sampaikan, tetapi seberapa banyak makna yang berhasil kita tanamkan. Siswa tidak bisa belajar dengan optimal jika tegang atau takut. Itulah mengapa pembelajaran yang asyik dan penuh cinta itu penting. Cinta itu menghadirkan rasa aman, dan rasa aman membuka pintu pengetahuan,” terang Hj. Yuniyati di hadapan peserta.
Ia juga menambahkan bahwa teknik kreatif dan unik bukan sekadar gaya mengajar, tetapi bentuk keberanian guru menjadi otentik.
“Guru yang unik bukan guru yang aneh. Guru yang unik adalah guru yang berani keluar dari zona nyaman dan tetap menjadi dirinya sendiri. Siswa zaman sekarang sangat peka, mereka terinspirasi oleh guru yang jujur dan berani mencoba hal baru,” tambahnya.
H. Yatiman, Kepala MTs Negeri 1 Banjarnegara, memberikan apresiasi atas kiprah Hj. Yuniyati yang kembali membawa nama baik madrasah melalui kompetensi dan profesionalismenya.
“Kami sangat bangga. Ibu Hj. Yuniyati merupakan sosok yang konsisten berinovasi dalam pembelajaran. Kepercayaan dari MTs Negeri 3 Banyumas menunjukkan bahwa kompetensi guru MTsN 1 Banjarnegara diakui secara luas. Semoga pengalaman ini semakin memperkuat kolaborasi antar-madrasah demi kualitas pendidikan yang lebih baik,” ujarnya.
Salah satu peserta, Zahrotunnisa, mengaku sangat terbantu dengan teknik-teknik yang diajarkan. Menurutnya, materi yang disampaikan mudah dipraktikkan dan mampu mengubah cara pandang guru terhadap pembelajaran.
“Saya merasa tercerahkan. Selama ini saya fokus pada penyampaian materi, tetapi melalui workshop ini saya memahami bahwa kunci pembelajaran adalah keterlibatan emosional siswa. Teknik-teknik yang diberikan Bu Yuniyati sangat praktis. Saya tidak sabar ingin mencoba ‘Gamifikasi 5 Menit’ dan ‘Analogy Game’ di kelas besok,” ungkap Zahrotunnisa dengan antusias.
Workshop ditutup dengan Micro-Teaching 5 Menit, di mana para peserta diminta mempraktikkan salah satu teknik yang telah dipelajari. Suasana penuh gelak tawa, kreativitas, dan kehangatan, mencerminkan keberhasilan kegiatan tersebut.
Kepala MTs Negeri 3 Banyumas berharap bahwa pelatihan ini bukan sekadar acara seremonial, tetapi menjadi titik awal perubahan nyata di ruang-ruang kelas.
Sementara itu, Hj. Yuniyati menyampaikan harapan agar para guru terus berinovasi.
“Semoga ilmu hari ini menjadi cahaya kecil yang menerangi langkah kita sebagai pendidik. Kita mungkin tidak bisa mengubah banyak hal sekaligus, tetapi satu teknik baru yang kita terapkan dengan cinta sudah cukup membuat perbedaan besar bagi siswa,” tutupnya.
Kegiatan workshop ini menegaskan bahwa pembelajaran berkualitas lahir dari guru yang mau terus belajar, berbagi, dan mengajar dengan hati. (Lin)







