Meneladani Ketegaran Rasulullah di Masa Sulit: KUA Pagentan Gelar Penyuluhan di MT Nurul Hidayah Gumingsir

Banjarnegara (Humas) – Menghadapi dinamika kehidupan yang kian menantang, kekuatan spiritual menjadi fondasi utama bagi masyarakat. Hal inilah yang melandasi Kantor Urusan Agama (KUA) Pagentan untuk hadir menyapa jamaah Majelis Taklim (MT) Nurul Hidayah di Desa Gumingsir pada Selasa (13/1/2026). Bertempat di ruang kelas DA Cokroaminoto, kegiatan bimbingan ini mengangkat tema reflektif mengenai peristiwa Isra Mikraj dan fase Amul Huzni (Tahun Kesedihan).

Penyuluh Agama Islam KUA Pagentan, M. Syaiful Abidin, hadir sebagai narasumber utama. Dalam paparannya, ia tidak hanya mengulas mukjizat perjalanan malam Rasulullah saw, tetapi lebih dalam membedah kondisi psikologis dan latar belakang sejarah sebelum peristiwa agung tersebut terjadi. Syaiful menjelaskan bahwa Isra Mikraj adalah “hadiah” luar biasa dari Allah Swt., setelah Nabi Muhammad saw melewati masa-masa paling getir dalam hidupnya.

“Sebelum naik ke Sidratul Muntaha, Rasulullah kehilangan dua sosok pelindung utama, yaitu istri tercinta Siti Khadijah dan paman beliau Abu Thalib. Ini adalah pesan bagi kita semua bahwa ujian berat bukanlah akhir dari segalanya, melainkan pintu gerbang menuju kemuliaan yang lebih tinggi,” ungkap Syaiful di hadapan 20 jamaah yang hadir.

Ia menekankan bahwa kesedihan dalam menghadapi persoalan ekonomi maupun dinamika keluarga adalah hal yang manusiawi. Namun, melalui ibrah Isra Mikraj, masyarakat diajak untuk tetap optimis dan tidak terjebak dalam keputusasaan yang berlarut-larut.

Kegiatan ini disambut hangat oleh tokoh masyarakat setempat. Aji Nurwibowo, yang menjabat sebagai Ketua MT Nurul Hidayah sekaligus Kepala DA Cokroaminoto Gumingsir, memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif KUA Pagentan. Menurutnya, materi yang disampaikan sangat relevan dengan kebutuhan mental para ibu-ibu di desanya.

“Pendampingan spiritual seperti ini sangat efektif untuk menjaga kesehatan mental warga. Kami diingatkan bahwa setiap kesulitan ada kemudahan, dan setiap ujian adalah cara Tuhan untuk menaikkan derajat hamba-Nya,” ujar Aji.

Melalui kegiatan rutin ini, KUA Pagentan menegaskan reposisinya di tengah masyarakat. Lembaga ini tidak lagi hanya dipandang sebagai tempat administrasi pencatatan nikah, tetapi juga sebagai pusat bimbingan moral dan spiritual. Syaiful Abidin berharap, literasi mengenai sejarah Nabi (Sirah Nabawiyah) dapat membangun karakter masyarakat Gumingsir yang lebih tangguh, religius, dan mampu menghadapi tantangan zaman dengan kepala tegak.

Acara yang berlangsung khidmat tersebut diakhiri dengan sesi diskusi interaktif dan doa bersama, memperkuat komitmen KUA Pagentan untuk terus mendampingi majelis taklim di pelosok wilayah demi terwujudnya masyarakat yang kokoh secara spiritual. 

(msa/azd)

Skip to content