Kua Peduli, Pelukan Haru Mbah Satem Jadi Bukti Nyata KUA Berdampak di Mandiraja

Banjarnegara (Humas) – Suasana haru menyelimuti sebuah rumah sederhana di Desa Somawangi, Kecamatan Mandiraja, ketika KUA Mandiraja melalui program KUA Peduli – KUA Berdampak menyambangi langsung kediaman Satem (88), pada Jumat (30/1/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Penyuluh Agama Islam Mandiraja hadir membawa bantuan sebagai bentuk kepedulian dan kasih sayang kepada warga lanjut usia yang membutuhkan. Tak kuasa menahan haru, Mbah Satem menyambut kedatangan rombongan dengan air mata bahagia. Bahkan, ia meminta untuk dipeluk sebagai ungkapan syukur dan rasa terima kasih atas perhatian yang diterimanya.

Momen pelukan hangat itu menjadi saksi bisu bahwa kehadiran KUA tidak hanya membawa bantuan materi, tetapi juga menghadirkan rasa dihargai, diperhatikan, dan disayangi, terutama bagi mereka yang telah lanjut usia.

Penyuluh Agama Islam Mandiraja, Hendriyanto, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata dari Program KUA Berdampak, di mana KUA hadir langsung di tengah masyarakat dan menyentuh sisi kemanusiaan yang paling dalam.

“Kami datang bukan sekadar membawa bantuan, tetapi membawa niat untuk berbagi kasih dan perhatian. Ketika Mbah Satem meminta dipeluk, itu menjadi pengingat bagi kami bahwa perhatian kecil bisa berarti sangat besar bagi seseorang. Inilah makna KUA Peduli dan KUA Berdampak yang sesungguhnya,” ungkap Hendriyanto dengan suara bergetar.

Sementara itu, Satem, warga asli Desa Somawangi, menyampaikan rasa syukur yang mendalam atas kunjungan dan bantuan yang diterimanya.

“Saya tidak menyangka akan didatangi dan diperhatikan seperti ini. Terima kasih banyak. Saya sangat bahagia, rasanya seperti punya keluarga yang datang menjenguk,” tutur Satem dengan mata berkaca-kaca.

Melalui kegiatan KUA Peduli, KUA Mandiraja menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan pelayanan keagamaan yang berdampak nyata, tidak hanya dalam urusan administrasi, tetapi juga dalam merawat nilai kemanusiaan, kepedulian sosial, dan kasih sayang antar sesama.

Pelukan Mbah Satem hari itu menjadi pesan kuat bahwa kehadiran negara melalui KUA, sekecil apa pun bentuknya, mampu menghadirkan kebahagiaan dan harapan bagi mereka yang membutuhkan.