Banjarnegara – Suasana ruang kelas 4A MIFABARA tampak hidup pada Sabtu pagi (7/2). Di bawah bimbingan Mahmudah, para siswa tidak sekadar membaca Al-Qur’an, melainkan mendalami setiap jengkal makna Surah Az-Zalzalah melalui metode Tahlili, yakni analisis ayat per ayat secara mendalam dan sistematis.
Sejak awal pembelajaran, atmosfer kelas terasa berbeda. Anak-anak duduk berkelompok dengan mushaf dan buku catatan di tangan. Mereka diajak menelusuri kandungan Al-Qur’an secara lebih terarah, khususnya Surah Az-Zalzalah yang menggambarkan dahsyatnya peristiwa hari kiamat dan keadilan Allah yang begitu sempurna.
Pembelajaran diawali dengan pembagian kelompok kerja. Fokus utama adalah mengupas mufradat atau kosakata kunci dalam surah tersebut. Setiap kelompok ditantang mengidentifikasi arti kata per kata, memahami konteksnya, lalu merangkainya menjadi pemahaman yang utuh. Diskusi berlangsung aktif; beberapa siswa membuka kamus kecil, sementara yang lain saling bertanya untuk memastikan arti yang tepat.
Salah satu siswa, Azka, terlihat antusias memimpin diskusi di kelompoknya. Ia dan rekan-rekannya menyusun pemaparan mengenai kosakata penting seperti “zilzalaha” dan “dzarrah”, lalu mengaitkannya dengan pesan tentang tanggung jawab atas setiap amal perbuatan.
Puncak kegiatan terjadi saat sesi presentasi. Azka maju ke depan kelas mewakili kelompoknya. Dengan penuh percaya diri, ia menjelaskan isi kandungan surah, mulai dari peringatan tentang keadilan Allah hingga balasan sekecil biji sawi bagi amal baik maupun buruk. Teman-temannya menyimak dengan serius, sesekali mengangguk tanda memahami.
Metode presentasi ini bertujuan agar siswa tidak hanya menjadi pendengar pasif, tetapi juga mampu mengomunikasikan ilmu yang didapat kepada teman sebayanya. Hal ini terbukti efektif meningkatkan pemahaman kolektif di kelas 4A.
“Dengan metode ini, anak-anak tidak hanya hafal secara lisan, tapi juga meresap maknanya ke dalam hati. Ketika Azka dan teman-temannya menjelaskan sendiri, bahasa yang digunakan lebih mudah diterima oleh teman sekelasnya,” ujar Mahmudah bangga.
Ia berharap pembelajaran Al-Qur’an tidak berhenti pada aspek bacaan semata, tetapi tumbuh menjadi kesadaran spiritual dalam diri siswa.
Melalui kegiatan ini, para siswa diharapkan mampu mengaplikasikan nilai-nilai Surah Az-Zalzalah dalam kehidupan sehari-hari, terutama tentang kejujuran, amanah, dan tanggung jawab atas setiap perbuatan. Sebab, sekecil apa pun kebaikan atau keburukan, semuanya akan mendapat balasan yang setimpal. (mac/nas)







