Banjarnegara (Humas) — Suasana Masjid An Nur Dusun Dengok tampak khidmat dan penuh kehangatan pada Rabu (8/4/2026). Sejak pukul 09.00 hingga 11.00 WIB, jamaah Majlis Taklim An Nur mengikuti kegiatan keagamaan yang sarat makna bersama para Penyuluh Agama Islam KUA Wanadadi.
Kegiatan yang menjadi agenda rutin pembinaan umat ini dihadiri dan dibimbing langsung oleh para Penyuluh Agama Islam KUA Wanadadi, yakni Khasan, Arif Kholdun, Tugiran, dan Namyroh Ndaruwati. Majlis taklim ini menjadi ruang belajar sekaligus sarana menguatkan iman dan ukhuwah di tengah masyarakat.
Acara diawali dengan tasmi’ Al-Qur’an yang dipandu oleh Saudara Khasan, dengan lantunan ayat-ayat suci dari Surat Al-Baqarah ayat 275 hingga Surat Ali Imran ayat 15. Jamaah menyimak dengan penuh kekhusyukan, meresapi pesan-pesan ilahi yang mengingatkan pentingnya keimanan, kejujuran, dan orientasi akhirat dalam kehidupan sehari-hari.
“Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk dihidupkan dalam perilaku kita sehari-hari. Dengan tasmi’ ini, kita belajar menjaga kemurnian bacaan sekaligus menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an,” ungkap Khasan di sela kegiatan.
Kegiatan dilanjutkan dengan tahsin Al-Qur’an, khususnya pada Surat Al-Waqiah ayat 1–35. Dalam sesi ini, jamaah dibimbing untuk memperbaiki makhraj, tajwid, dan kelancaran bacaan agar semakin tartil dan sesuai kaidah. Tahsin ini menjadi ikhtiar bersama agar ibadah membaca Al-Qur’an semakin berkualitas.
Selanjutnya, tausiah disampaikan oleh Saudara Arif Kholdun dengan tema keistimewaan istiqamah dalam beribadah. Dalam penyampaiannya, Arif mengisahkan keteladanan Zubaidah, istri Khalifah Harun Ar Rasyid, yang dikenal memiliki keimanan kuat, kepedulian sosial tinggi, dan keteguhan luar biasa dalam amal kebaikan.
“Istiqamah itu tidak selalu tentang hal besar, tetapi tentang kesetiaan dalam kebaikan meski dilakukan secara perlahan dan terus-menerus. Zubaidah mengajarkan bahwa keimanan yang kokoh akan melahirkan amal yang memberi manfaat luas,” tutur Arif Kholdun.
Ia juga mengajak jamaah untuk menjadikan momentum bulan Syawal sebagai awal memperkuat konsistensi ibadah setelah Ramadhan, agar semangat taat tidak berhenti ketika bulan suci telah berlalu.
Menjelang akhir kegiatan, suasana menjadi semakin hangat dan haru saat acara ditutup dengan saling bermaafan, mengingat masih berada dalam nuansa bulan Syawal. Jamaah saling berjabat tangan, mempererat silaturahmi, dan membersihkan hati dari segala khilaf dan prasangka.
Salah satu penyuluh, Namyroh Ndaruwati, menyampaikan bahwa majlis taklim bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang menyemai ketenangan dan kebersamaan. “Majlis ilmu adalah rezeki. Diberi sehat, sempat, dan kemauan untuk hadir adalah karunia besar dari Allah SWT yang patut kita syukuri,” ungkapnya.
Sementara itu, Tugiran menegaskan pentingnya keberlanjutan kegiatan pembinaan keagamaan di tingkat desa sebagai fondasi penguatan karakter umat.
Melalui kegiatan Majlis Taklim An Nur ini, KUA Wanadadi berharap nilai-nilai Al-Qur’an dan semangat istiqamah dapat terus tumbuh di tengah masyarakat, menjadi cahaya yang menuntun kehidupan yang religius, rukun, dan penuh keberkahan.
KUA Wanadadi berkomitmen untuk terus hadir di tengah umat, membina, melayani, dan menguatkan kehidupan keagamaan masyarakat secara berkelanjutan.
(NN/azd)







