Seni “Maklum”: Jurus Jitu Warga Tedunan Jemput Ampunan Ilahi

Banjarnegara (Humas) – Suasana di Gedung TPQ Baitul Na’im, Dusun Tedunan, Desa Pagentan tampak lebih hangat dari biasanya pada Kamis siang (9/4/2026). Bukan karena cuaca, melainkan karena obrolan seru nan bermakna yang dibawa oleh M. Syaiful Abidin, Penyuluh Agama Islam dari KUA Pagentan.

Dihadiri oleh 21 jamaah yang merupakan warga RW 8, pertemuan rutin Majelis Taklim (MT) Baitul Na’im kali ini mengangkat tema yang sangat relate dengan kehidupan sehari-hari: “Seni Memaklumi, Kunci Ampunan Ilahi.”

Dalam penyuluhannya yang santai dan sesekali diselingi candaan ringan, Syaiful mengajak para jamaah untuk melakukan refleksi diri. Menurutnya, manusia sering kali memiliki standar ganda dalam menilai sebuah kesalahan. Kita cenderung menjadi “hakim” yang kejam bagi orang lain, namun menjadi “pengacara” yang hebat untuk membela diri sendiri di hadapan Tuhan.

“Seringkali kita sangat teliti terhadap kesalahan orang lain kepada kita, tapi kita sangat abai terhadap kesalahan kita kepada Allah. Kalau kita ingin Allah ‘maklum’ dengan dosa kita, maka kita harus belajar ‘maklum’ dengan kekurangan orang lain,” ujar Syaiful di hadapan para jamaah yang mengangguk setuju.

Ia menjelaskan bahwa sikap pemaaf dan mudah memaklumi (tasamuh) bukan berarti kalah, melainkan strategi cerdas agar urusan kita dipermudah oleh Sang Pencipta. Jika kita menutup mata atas aib sesama, Allah pun akan menutup aib kita.

Kegiatan ini pun mendapat sambutan hangat dari pihak setempat. Triana, yang menjabat sebagai Kepala Dusun Tedunan sekaligus pengurus MT Baitul Na’im, menyampaikan bahwa materi seperti ini sangat dibutuhkan untuk menjaga kerukunan warga, terutama di lingkungan padat seperti RW 8.

“Kami sangat berterima kasih kepada Pak Syaiful dari KUA Pagentan. Tema ini sangat menyentuh sisi kemanusiaan kita. Terkadang di lingkungan warga, gesekan kecil itu pasti ada. Dengan belajar seni memaklumi, harapannya warga Dusun Tedunan tidak hanya makin religius secara ibadah, tapi juga makin kompak dan rukun secara sosial,” ungkap Triana.

Acara yang berlangsung gayeng ini ditutup dengan tanya jawab singkat dan doa bersama. Para jamaah pulang dengan senyuman, membawa “bekal” ilmu baru bahwa kunci surga ternyata bisa dimulai dari hal sederhana: belajar memaklumi. 

(msa/azd)

Skip to content