Sepi yang Berarti: Dari Musala Kecil di Lengsar, Dakwah Tetap Menyala

Banjarnegara (Humas) – Di sebuah musala kecil yang berada di Dusun Lengsar, Desa Lawen, suasana siang itu tampak tenang dan sederhana. Lantunan salam pembuka terdengar lirih, disambut beberapa jamaah yang duduk bersila dengan penuh perhatian. Di tengah keterbatasan jumlah jamaah yang hadir. Sudarno selaku Penyuluh Agama Islam Kecamatan Pandanarum tetap melaksanakan kegiatan bimbingan dan penyuluhan keagamaan dengan penuh semangat dan ketulusan. (22/4/2026)

Kegiatan yang mengangkat tema “Menjadi Ibu yang Dirindukan Surga” ini berlangsung hangat dan penuh keakraban. Sudarno menyampaikan materi dengan bahasa yang sederhana namun menyentuh, sehingga mudah dipahami oleh para jamaah yang sebagian besar merupakan ibu-ibu. Ia menekankan bahwa peran seorang ibu sangatlah mulia, tidak hanya sebagai pengurus rumah tangga, tetapi juga sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya.

Dalam penyampaiannya, Sudarno menguraikan bahwa menjadi ibu yang dirindukan surga bukanlah hal yang instan. Dibutuhkan kesabaran dalam mendidik anak, keikhlasan dalam menjalani peran, serta keteladanan dalam bersikap sehari-hari. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga lisan, memperbanyak doa, serta menanamkan nilai-nilai keimanan sejak dini kepada anak-anak.

Meski jamaah yang hadir tidak banyak, suasana penyuluhan tetap terasa hidup. Interaksi antara penyuluh dan jamaah berjalan dengan baik, beberapa jamaah tampak mengangguk-angguk tanda memahami, bahkan sesekali tersenyum ketika Sudarno menyelipkan contoh-contoh kehidupan sehari-hari yang dekat dengan mereka.

Sudarno menegaskan bahwa dakwah tidak boleh bergantung pada jumlah audiens. Baginya, satu orang yang mendapatkan manfaat pun sudah menjadi keberkahan tersendiri.

“Jangan pernah berkecil hati dengan sedikitnya jamaah. Yang penting adalah keikhlasan kita dalam menyampaikan. Semoga yang hadir hari ini bisa menjadi perantara kebaikan dengan menyampaikan kembali ilmu ini kepada keluarga dan tetangga. InsyaAllah itu menjadi amal jariyah,” ujarnya penuh harap.

Ia juga mengajak para jamaah untuk menjadikan ilmu yang diperoleh sebagai bekal dalam kehidupan sehari-hari, serta mendorong para ibu untuk menjadi teladan di lingkungan masing-masing. Menurutnya, perubahan besar dalam masyarakat bisa dimulai dari keluarga, dan ibu memiliki peran penting dalam hal tersebut.

Salah satu jamaah yaitu Suwarti, mengungkapkan rasa syukur dan harunya setelah mengikuti kegiatan tersebut. Ia merasa mendapatkan banyak pelajaran berharga meskipun kegiatan berlangsung dengan peserta yang terbatas.

“Saya sangat bersyukur masih bisa mengikuti penyuluhan seperti ini. Pak Sudarno tetap semangat walaupun jamaahnya sedikit. Justru kami yang kadang merasa tidak enak hati, tapi beliau tetap istiqomah. Materinya juga sangat menyentuh dan mengingatkan kami sebagai seorang ibu,” ungkapnya.

Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa dakwah tidak selalu identik dengan keramaian. Di balik kesederhanaan musala kecil di Dusun Lengsar, tersimpan semangat besar untuk terus menyebarkan nilai-nilai kebaikan. Dengan ketulusan dan konsistensi, penyuluhan seperti ini diharapkan mampu memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi masyarakat. 

(ev/azd)

Skip to content