Banjarnegara (Humas) – Mengaji seharusnya menjadi jalan untuk menambah ilmu sekaligus memperbaiki akhlak. Namun, apa jadinya jika seseorang rajin datang ke majelis ilmu, tetapi setelah pulang masih gemar membicarakan keburukan orang lain?
Persoalan sederhana namun dekat dengan kehidupan sehari-hari tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam kegiatan pembinaan Majelis Taklim (MT) Al Latif, yang diisi oleh Penyuluh Agama Islam KUA Mandiraja, Feti Sulistiani. Kegiatan berlangsung dalam suasana hangat dan akrab bersama para jemaah, khususnya ibu-ibu. (24/8/2026)
Mengangkat tema “Memaksimalkan Pahala di Majelis Ilmu Biar Tidak Bocor”, Feti mengajak jemaah tidak hanya rajin menghadiri pembinaan, tetapi juga menjaga apa yang didapat setelah keluar dari majelis.
Menurutnya, majelis ilmu merupakan tempat yang sangat mulia. Jemaah datang dengan niat mencari ilmu dan berharap mendapatkan pahala. Namun, pahala tersebut jangan sampai “bocor” karena perilaku setelah pembinaan.
“Kadang kita sudah duduk satu sampai dua jam mendengarkan pembinaan. Hati terasa adem, ilmu bertambah. Tapi begitu keluar dari majelis, ketemu teman langsung, ‘Eh, kamu tahu nggak sih, si A itu…’ Nah, ini yang perlu kita hati-hati,” tutur Feti disambut senyum dan tawa jemaah.
Ia menjelaskan bahwa membicarakan orang lain, membuka aib, menyebarkan kabar yang belum jelas, hingga menjadikan kehidupan orang lain sebagai bahan obrolan merupakan kebiasaan yang harus dikendalikan.
“Jangan sampai pahala kita seperti uang masuk ke dompet, tetapi lubangnya tidak kita sadari. Sedikit demi sedikit keluar. Ngaji dapat pahala, tetapi lisan tidak dijaga. Datang ke majelis ingin membersihkan hati, pulangnya malah membawa cerita tentang aib orang,” jelasnya.
Feti juga mengingatkan bahwa ghibah bukan selalu dilakukan dengan kebencian. Kadang justru muncul dalam bentuk obrolan santai di antara ibu-ibu.
Misalnya, “Saya sebenarnya kasihan sama dia, tapi memang suaminya begitu…”
Menurut Feti, kalimat seperti itu perlu diwaspadai karena bisa berubah menjadi pembicaraan tentang keburukan orang lain.
Ia mengajak jemaah menggunakan “saringan tiga pertanyaan” sebelum berbicara tentang orang lain: benarkah yang saya sampaikan, perlukah saya menyampaikannya, dan apakah orang yang dibicarakan rela jika mendengarnya?
“Kalau tidak benar, jangan bicara. Kalau benar tetapi tidak perlu dibicarakan, lebih baik diam. Kalau kita sendiri tidak mau dibicarakan seperti itu, jangan lakukan kepada orang lain,” pesannya.
Selain menjaga lisan, jemaah juga diajak menjaga sikap setelah mendapatkan ilmu. Ilmu dari majelis hendaknya terlihat dalam kehidupan sehari-hari: semakin sabar kepada suami, semakin lembut kepada anak, tidak mudah marah kepada tetangga, serta mampu menahan diri ketika mendapatkan kabar yang memancing emosi.
Ketua Takmir MT Al Latif, Sumirah, menyampaikan bahwa materi tersebut sangat dekat dengan kehidupan jemaah.
“Materinya sederhana, tetapi justru kena dengan kehidupan kita sehari-hari. Kita ini senang ngaji, tetapi memang setelah ngaji tantangannya adalah bagaimana ilmu itu dipraktikkan. Terutama menjaga lisan,” ungkap Sumirah.
Ia berharap kegiatan majelis taklim tidak berhenti pada rutinitas berkumpul dan mendengarkan ceramah, tetapi benar-benar memberikan perubahan dalam kehidupan jemaah.
Feti menutup penyampaiannya dengan sebuah pesan ringan yang membuat jemaah tersenyum:
“Jangan hanya rajin mengisi pahala lewat ngaji, tapi rajin juga menjaga agar pahalanya tidak bocor lewat lisan.”
Pesan tersebut menjadi pengingat bagi jemaah bahwa ukuran keberhasilan menghadiri majelis ilmu bukan hanya seberapa sering seseorang datang mengaji, tetapi seberapa jauh ilmu itu mampu mengubah ucapan, sikap dan perilakunya setelah pulang dari majelis.
Karena majelis ilmu seharusnya membuat lisan semakin terjaga, hati semakin bersih, dan hubungan dengan sesama semakin baik.







