Kisah Haru Perempuan Katolik Asal Balikpapan Mantap Bersyahadat di KUA Banjarnegara

Banjarnegara (Humas) — Suasana haru dan khidmat menyelimuti aula Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Banjarnegara. Seorang perempuan beragama Katolik asal Balikpapan, Kalimantan Timur, Hiskia Ester Silitonga, secara resmi mengikrarkan dua kalimat syahadat untuk memeluk agama Islam pada hari Senin (12/10).

Prosesi pengislaman tersebut dibimbing langsung oleh Kepala KUA Banjarnegara, Ahmad Rofik Sidqi, dengan didampingi oleh Penyuluh Agama Islam perempuan KUA Banjarnegara, Ani Musyarofah. Kehadiran penyuluh perempuan ini memberikan kenyamanan dan rasa hangat bagi sang mualaf saat melangkah memasuki keyakinan barunya.

Dengan suara bergetar dan genangan air mata bahagia, perempuan tersebut menirukan ucapan kalimat syahadat yang dituntunkan oleh Penyuluh Agama Islam. Keheningan aula seketika pecah saat ucapan “satu” terdengar dari para saksi yang hadir, menandai resminya ia menjadi seorang muslimah.

Kepala KUA Banjarnegara menyampaikan rasa syukur dan memberikan wejangan mendalam bagi sang mualaf. Beliau menekankan bahwa keputusan berpindah keyakinan merupakan hidayah besar dari Allah SWT yang harus dijaga dengan keikhlasan dan ketulusan hati.

“Memeluk Islam adalah awal dari perjalanan spiritual yang panjang. Kami di KUA Banjarnegara siap memfasilitasi dan mendampingi proses belajar, agar Saudari dapat menjalankan syariat Islam dengan tenang dan mantap,” tuturnya.

Sementara itu, Penyuluh Agama Islam perempuan yang turut mendampingi langsung memberikan pelukan hangat usai prosesi selesai. Ia menegaskan komitmennya untuk memberikan bimbingan berkelanjutan, khususnya dalam hal ibadah praktis sehari-hari seperti tata cara bersuci, salat, dan membaca Al-Qur’an.

“Sebagai sesama perempuan, kami akan mendampingi beliau secara bertahap dan penuh kasih sayang. Pembinaan mualaf tidak berhenti di lembaran ikrar, tetapi dilanjutkan dengan pembinaan spiritual yang berkesinambungan,” ungkap penyuluh perempuan tersebut.

Momen berharga ini ditutup dengan doa bersama dan penyerahan surat keterangan mualaf. Kehadiran KUA Banjarnegara tidak hanya menjadi saksi sejarah hidup sang mualaf, tetapi juga pelindung dan pembimbing dalam perjalanan barunya meniti jalan ketaatan.