Tingkatkan Kualitas Guru, Mimau Adakan Workshop IKM

Banjarnegara (Humas) – Sehubungan dengan adanya pemberlakuan kurikulum baru untuk seluruh kelas tahun pelajaran 2024/ 2025 yakni penerapan Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM), maka sesuai dengan program upgrading madrasah ditiap memasuki tahun ajaran baru dilaksanakanlah workshop/ pelatihan yang diselenggarakan oleh MI Ma’arif Al Falah Joyokusumo (Mimau) tentang Penyusunan Perangkat Ajar pada Kurikulum Merdeka dan projek penguatan profil pelajar Pancasila P5 serta profil pelajar Rahmatan Lil ‘Alamin (P2RA).

Kegiatan pelatihan IKM selama 2 hari dilaksanakan pada hari Senin dan Selasa (8-9/7). Kegiatan tersebut diikuti oleh seluruh pendidik dan tenaga kependidikan Mimau Parakancanggah, Banjarnegara. Kegiatan workshop IKM dipusatkan di Aula Dome in Samingah Wised Bobotsasi Purbalingga. Hadir Unik Fepriyanti sebagai narasumber yang merupakan guru salah satu MI di kabupaten Purbalingga, yang notabene Instruktur BIMTEK.

Sebelum materi disampaikan, Unik membacakan curriculum vitae (CV) sementara menyapa kepada seluruh peserta yang hadir pada kegiatan tersebut sebagai perkenalan singkat.  Selanjutnya disampaikanlah materi dari pengertian, istilah-istilah baru pada IKM.

“Ok.. bapak ibu sebelum saya lanjutkan, sebaiknya kita membuat aturan terlebih dahulu ya, biar kita sama-sama sepakat, mari kita tentukan aturannya bersama-sama. Peraturan yang pertama tidak boleh merokok, kemudian mensunyikan dering HP, aktif, fokus, disiplin, mengerjakan tugas dan bahagia,” jelas Unik.

Kemudian penjelasan sekilas tentang pembaharuan kurikulum sejak tahun 1950 yang lalu. Bahwa sejak kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945, baru ada kurikulum di tahun 1950 hingga sekarang dan terdapat 13 perubahan kurikulum, jadi jangan heran dengan adanya perubahan kurikulum baru. Ikuti dan pelajari terus agar guru bisa mengikuti perkembangan zaman, contohnya IKM ini yang katanya masih sulit dipahami.

Meskipun kurikulum yang digunakan sama, namun IKM di daerah kota tentunya tidak sama penerapannya dengan IKM di daerah pelosok. Jadi sebaiknya sebagai seorang pendidik harus selalu mau mengembangkan diri agar dapat mencetak generasi yang unggul, berprestasi dan sholih/ah. Selain itu, guru penting berkolaborasi/ kerjasama dengan anggota keluarga peserta didik dalam proses pendidikan. Harapannya generasi yang akan datang adalah generasi yang pandai, menyesuaikan diri disituasi apapun dan dimanapun.

Dimulai tepat pukul 09.00 wib dari pembukaan hingga penutupan pukul 23.00 wib kegiatan workshop berjalan dengan lancar dan sangat menarik diikuti. Meskipun dengan durasi yang cukup lama dan bahkan sampai menjelang tengah malam, namun Unik selalu menyemangati seluruh peserta yang hadir. Dalam menyemangatinya beliau sampaikan beberapa fenomena pandangan masyarakat umum yang khususnya untuk guru di zaman sekarang.

“Guru bukan hanya bertugas mengajar dan mentransfer ilmu saja namun harus update ilmu dan meningkatkan kualitas diri. Pesan saya jika madrasah ingin maju pertama harus punya guru yang kompeten artinya cakap, kreatif, kedua cara mengajar yang inovatif atau rajin pembaharuan, ketiga cara menyampaikan materi adaptif/sesuai jaman (pengembangan). Contohnya ya kegiatan semacam ini, harapannya tentu untuk menambah wawasan, ilmu bapak ibu semua, serta menjalin hubungan baik antara sesama,” jelas Unik dalam pesannya menyemangati peserta.

Ditengah-tengah pengisian materi sebelum jeda (ishoma) istirahat sholat makan, peserta diberi waktu untuk mencoba membuat modul ajar, untuk kemudian praktek langsung setelahnya. Sebelumnya, peserta dikelompokkan sesuai fasenya untuk praktik bermusyawarah menentukan alur tujuan pembelajaran. Disini ada ilmu yang sangat menarik dan mudah dipahami karna peserta mempraktikkan langsung sampai benar-benar bisa.

Sesuai yang sudah disampaikan Unik sebelumnya, bahwa guru harus terus rajin belajar, meskipun sudah banyak umur tapi tidak boleh ketinggalan zaman terutama dalam hal teknologi.

“Sebenarnya IKM tidak beda jauh dengan kurikulum lain, hanya berbeda namanya. Dan kunci sukses kegiatan pembelajaran ada di guru, karena tidak ada murid yang bodoh, namun murid belum menemukan guru yang tepat. Harus ada peningkatan diri agar apa yang disampaikan menarik dan mudah dipahami oleh siswa,” tegas Unik dengan semangat di hadapan peserta. (nf)

Skip to content