Menumbuhkan Akar Literasi: MTs Negeri 1 Banjarnegara Terapkan Kegiatan “Baca Senyap”

Banjarnegara (Humas) – MTs Negeri 1 Banjarnegara menunjukkan komitmen kuatnya dalam menumbuhkan budaya literasi di kalangan peserta didiknya. Melalui program inovatif bernama “Baca Senyap,” Madtsansa mengajak seluruh civitas akademika untuk meresapi keheningan dan menyelami dunia buku.

Kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap hari Senin pada jam pelajaran pertama, dua pekan sekali, dan menjadi agenda wajib yang didampingi oleh wali kelas masing-masing. “Baca Senyap” adalah sebuah kegiatan membaca yang dilakukan secara mandiri dan hening selama 40 menit.

Senin (4/8) seluruh siswa-siswi, dari kelas VII hingga IX,  membawa buku bacaan non-pelajaran, baik fiksi maupun non-fiksi, untuk dibaca di dalam kelas. Suasana hening yang tercipta menciptakan ruang fokus bagi para siswa untuk benar-benar terhanyut dalam bacaan mereka. Hal ini menjadi upaya strategis untuk menjadikan membaca bukan sekadar kewajiban, melainkan kebutuhan dan kebiasaan yang menyenangkan.

Kepala  MTs Negeri 1 Banjarnegara, H. Yatiman, mengungkapkan bahwa program ini merupakan bagian integral dari visi madrasah untuk mencetak generasi yang cerdas dan berwawasan luas.

“Kami yakin, fondasi kecerdasan dan kreativitas anak-anak terletak pada kemampuan literasi mereka. ‘Baca Senyap’ ini bukan hanya tentang membaca, melainkan juga melatih fokus, kedisiplinan, dan kemandirian siswa. Kami ingin menanamkan pemahaman bahwa buku adalah jendela dunia, dan melalui program ini, kami membuka jendela itu lebih lebar,” ujar H. Yatiman dengan penuh semangat.

Kepala madrasah juga menambahkan bahwa keikutsertaan wali kelas dalam mendampingi kegiatan ini sangat penting untuk memastikan kegiatan berjalan efektif dan menjadi teladan bagi para siswa.

Widi Widayati, selaku Ketua Tim Literasi Madtsansa, menjelaskan latar belakang digulirkannya program ini.

“Kami melihat adanya tantangan di era digital ini, di mana minat baca buku fisik seringkali tergeser oleh gawai. Oleh karena itu, kami merancang ‘Baca Senyap’ sebagai intervensi positif. Selama 40 menit, seluruh aktivitas digital dihentikan, dan fokus beralih ke buku. Dampaknya sangat positif. Kami melihat siswa-siswi mulai berani meminjam buku di perpustakaan dan berbagi cerita tentang buku yang mereka baca. Ini membuktikan bahwa budaya literasi dapat tumbuh subur jika kita memberikan ruang dan waktu yang tepat,” jelas Widi.

Ia juga menekankan bahwa tim literasi secara berkala akan melakukan evaluasi untuk terus menyempurnakan program ini.

Peran wali kelas sebagai pendamping sangat krusial dalam keberhasilan program “Baca Senyap.” Surya Widi Prakosa, wali kelas VIII B, menuturkan pengalamannya.

“Awalnya, beberapa siswa merasa canggung atau bosan. Namun, setelah beberapa kali pertemuan, mereka mulai menikmati. Saya sering melihat Kaila dan teman-temannya saling bertukar buku dan merekomendasikan judul-judul menarik. Kami sebagai wali kelas tidak hanya mendampingi, tetapi juga menjadi pembimbing. Kadang kami berdiskusi ringan tentang buku yang mereka baca, dan hal ini mempererat hubungan kami dengan siswa,” kata Surya.

Ia menambahkan bahwa “Baca Senyap” juga menjadi momen bagi siswa untuk sejenak melepaskan beban pelajaran dan mengeksplorasi minatnya melalui buku.

Di sisi lain, respons positif datang dari para siswa. Kaila, siswi kelas VII B, mengungkapkan antusiasmenya terhadap program ini.

“Aku suka banget ‘Baca Senyap.’ Biasanya aku cuma baca komik atau novel, tapi karena kegiatan ini, aku jadi coba baca buku non-fiksi tentang sejarah. Ternyata seru juga! Setiap dua minggu, aku jadi punya motivasi buat nyari buku baru yang unik. Suasananya yang hening bikin aku gampang konsentrasi.”  tutur Kaila dengan wajah ceria.

Kegiatan “Baca Senyap” di MTs Negeri 1 Banjarnegara tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi juga sebuah gerakan kolektif untuk membangun peradaban yang berlandaskan ilmu pengetahuan. Dengan konsistensi dan sinergi antara madrasah, guru, dan siswa, MTs Negeri 1 Banjarnegara membuktikan bahwa menumbuhkan budaya literasi bukanlah hal yang mustahil, melainkan sebuah perjalanan yang dimulai dari keheningan dan kebersamaan. Program ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi sekolah dan madrasah lain untuk terus berinovasi dalam menggalakkan budaya membaca di tengah gempuran arus digitalisasi. (Fy/La)

Skip to content