Air Mata Cinta Mengiringi Akhirussanah Kelas VI MIFABARA, Persembahan Penuh Haru yang Tak Terlupakan

Banjarnegara – Suasana haru menyelimuti panggung Akhirussanah Kelas VI Madrasah Ibtidaiyah Al Fatah Banjarnegara (MIFABARA) ketika seluruh siswa mempersembahkan sebuah lagu spesial untuk orang tua dan guru tercinta. Lantunan nada yang semula terdengar lembut perlahan berubah menjadi isak tangis yang memenuhi ruangan. Tak sedikit hadirin yang ikut menitikkan air mata menyaksikan momen penuh cinta tersebut.(30/6)

Di tengah lagu persembahan, Syakira yang menjadi salah satu pengisi vokal mendadak terdiam. Suaranya bergetar, matanya mulai berkaca-kaca, hingga akhirnya ia tak mampu lagi melanjutkan bait demi bait lagu yang sedang dinyanyikannya. Kenangan tentang sosok ayah yang telah berpulang beberapa tahun lalu hadir begitu kuat di hatinya, tepat di momen yang seharusnya menjadi hari penuh kebahagiaan.

Hari itu, ketika teman-temannya dapat memandang wajah ayah dan ibu yang duduk dengan bangga di kursi tamu, Syakira hanya bisa mengenang kasih sayang sang ayah yang dahulu selalu mendampinginya. Sosok yang pernah mengantarnya berangkat sekolah, mendoakan setiap langkahnya, dan menjadi penyemangat dalam meraih cita-cita, kini hanya hadir dalam doa dan kenangan yang tak pernah pudar.

Melihat Syakira tak kuasa menahan tangis, sang ibu segera memeluk putrinya dengan erat. Pelukan hangat dari ibu dan keluarga besarnya menjadi tempat bersandar, seolah menguatkan hati kecil yang sedang diliputi rindu mendalam. Di balik air mata yang mengalir, tersimpan cinta yang tidak pernah berakhir, cinta seorang anak kepada ayah yang akan selalu hidup dalam setiap doa.

Namun, air mata siang itu bukan hanya milik Syakira. Satu per satu siswa kelas VI larut dalam suasana haru. Usai menyelesaikan lagu persembahan, mereka berlari menghampiri orang tua masing-masing, lalu bersimpuh di pangkuan ayah dan ibu sambil memeluk erat sosok yang selama ini menjadi penyemangat dalam perjalanan pendidikan mereka. Tangis bahagia, rasa syukur, dan haru berpadu menjadi satu, menghadirkan pemandangan yang begitu menyentuh hati.

Para guru yang menyaksikan momen tersebut pun tampak tak mampu menyembunyikan haru. Bagi mereka, air mata itu bukan sekadar kesedihan karena perpisahan, melainkan ungkapan kasih sayang, rasa terima kasih, dan bukti bahwa ikatan antara anak, orang tua, dan madrasah telah terjalin begitu kuat selama enam tahun kebersamaan.

Semoga setiap langkah seluruh alumni MIFABARA senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT, menjadi anak-anak saleh dan salihah yang kelak mampu menghadiahkan doa terbaik bagi kedua orang tua, baik yang masih mendampingi maupun yang telah lebih dahulu kembali ke hadirat-Nya.(nas)

Skip to content