Banjarnegara (Humas) – Rabu Wekasan merupakan Rabu terakhir di bulan Safar dalam kalender Hijriyah. Menurut Syekh Abdul Hamid Quds, dalam kitabnya Kanzun Najah Was-Surur fi Fadhail Al-Azminah wash-Shuhur, menerangkan bahwa setiap tahun Allah SWT menurunkan 320.000 macam bala atau musibah ke bumi dan semua terjadi pada hari Rabu terakhir pada bulan Safar. Melansir dari pernyataan tersebut, masyarakat melakukan tradisi atau amalan tertentu pada malam dan hari Rabu. Adapun amalan tersebut antara lain membaca surah Yasin, melaksanakan salat sunah mutlak 4 rakaat lalu membaca doa tolak bala. (4/9)
Sebagai bentuk rasa hormat dan mempertahankan tradisi Jawa, bersama masyarakat sekitar madrasah maka MIMAU melaksanakan rabu wekasan di Masjid Baitul Falah. Adapun siswa yang mengikuti adalah kelas atas (kelas 5-6) bersama masyarakat. Sedangkan untuk kelas 1-4 melaksanakannya di area Aula PP Salafiyah. Tradisi yang melekat pada saat rabu wekasan adalah adanya sajian makanan dari para warga. MIMAU juga membagikan tumpeng untuk siswa dan guru serta masyarakat sekitar.
Rangkaian kegiatan bermula melaksanakan salat sunah mutlak 4 rakaat dengan setiap rakaatnya membaca surah Al Kautsar 17 kali, Al Ikhlas 5 kali, Al Falaq 1 kali dan An Nas 1 kali serta dilanjutkan dengan membaca doa. Kebersamaan terjalin dengan adanya pembagian tumpeng dan makan bersama masyarakat serta guru MIMAU.
Kepala Madrasah, Ibu Wahyul Khomisah menuturkan bahwa pengenalan tradisi rabu wekasan kepada anak-anak zaman sekarang perlu diperkenalkan dengan tujuan mengenalkan tradisi dari dulu, dan mengamalkan ajaran dari ulama sebelumnya. Begitu pun juga sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat dari Maha Kuasa.
“Rabu wekasan sudah menjadi tradisi tiap tahun yang pasti dilakukan. Dengan mengenalkan siswa mimau untuk mengenal rabu wekasan sangatlah bagus, disamping untuk mengenalkan tradisi juga dapat melatih rasa empati kepada khalayak serta menolak bencana (tolak bala) dan sebagai wujud rasa syukur” ungkap Wahyul.
Sementara itu, salah satu guru mimau, Bu Umu menyampaikan bahwa kegiatan ini selalu mendapatkan apresiasi bukan hanya dari siswa namun juga dari masyarakat sekitar.
“Alhamdulillah, siswa mimau sangat antusias dalam mengikuti rangkaian acara rabu wekasan. Mereka secara khusyuk dalam mengikuti salat dengan baik dan saling bantu antar masyarakat. Hal ini menjadi menjadi nilai plus tersendiri dari pandangan masyarakat.” tutur Umu.
Setelah serangkaian rabu wekasan selesai, tak luput siswa saling bahu membahu untuk merapikan masjid dari menyapu, melipat karpet serta membagikan tumpeng. Salah satu siswa kelas VI bernama Dini berpendapat bahwa acara rabu wekasan salah satu momen mendekatkan diri kepada Allah dan mengajarkan arti berbagi kepada sesama.
“Saya sangat bersyukur bisa merasakan acara rabu wekasan di madrasah tercinta ini. Terlebih lagi, saya melaksanakan acara tersebut bersama teman, guru serta masyarakat. Hal ini menambah rasa takwa kepada Allah.” ucap Dini. (Ad/La)







