Banjarnegara – Suasana kelas 2C MI Al Fatah Parakancanggah (MIFABARA) pada Jumat, 31/10, tampak berbeda dari biasanya. Tawa riang dan semangat belajar terdengar memenuhi ruangan. Hari itu, murid-murid tengah mengikuti pembelajaran Bahasa Arab dengan metode al‘ab (permainan) yang menarik, yaitu permainan bisik berantai.
Kegiatan ini merupakan bagian dari pembelajaran materi Al-Alwān (warna-warna) yang dirancang untuk melatih keterampilan mendengar (istimā‘) dan berbicara (kalām) murid dalam Bahasa Arab secara menyenangkan.
Guru memulai kegiatan dengan membagi murid menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok berbaris memanjang ke belakang. Murid yang berada di barisan paling belakang menerima satu kosakata Bahasa Arab yang disampaikan oleh guru, misalnya “أحمر” (ahmar, berarti merah) atau “أصفر” (asfar, berarti kuning). Kata itu kemudian dibisikkan secara berantai dari satu murid ke murid lain hingga sampai ke barisan paling depan.
Murid di barisan depan menuliskan kata yang ia dengar di selembar kertas. Kelompok yang mampu menuliskan kata dengan benar akan mendapatkan poin. Suasana pun menjadi seru dan penuh tawa ketika terkadang kata yang dibisikkan berubah lucu di tengah perjalanan.
Menurut Ustadzah pengampu pelajaran Bahasa Arab, metode permainan seperti ini sengaja dipilih agar murid belajar dengan gembira dan aktif. “Permainan bisik berantai ini melatih kemampuan mendengar dan berbicara sekaligus. Murid belajar menangkap bunyi kata dengan cepat dan mengucapkannya dengan tepat. Selain itu, mereka juga belajar bekerja sama dan saling mendukung dalam kelompok,” jelasnya.
Beliau menambahkan, pembelajaran Bahasa Arab akan lebih mudah diterima anak-anak jika dikemas dalam bentuk permainan yang interaktif. “Anak-anak usia dasar sangat suka bermain. Maka, ketika belajar dilakukan dengan pendekatan permainan, semangat mereka tumbuh dan kosa kata yang dipelajari lebih mudah diingat,” ujarnya.
Salah satu murid, Keysha, mengaku sangat senang mengikuti kegiatan ini. “Seru sekali, soalnya sambil bermain jadi nggak bosan. Bisa hafal warna-warna dalam Bahasa Arab juga,” ujarnya penuh semangat.
Melalui kegiatan pembelajaran seperti ini, Durotun Nafisah kepala madrasah bersama MIFABARA terus menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pembelajaran yang aktif, kreatif, dan menyenangkan. Bahasa Arab yang semula dianggap sulit kini menjadi pelajaran yang dinantikan, karena setiap kata dapat dihafal dengan tawa, semangat, dan kebersamaan. (luc/nas)







