Banjarnegara (Humas) — Suasana pelatihan pembuatan Dawet Ayu Banjarnegara yang diselenggarakan oleh Penyuluh Agama Islam Kecamatan Mandiraja di Bengkel Hati milik Imam Hambali, tiba-tiba berubah menjadi lebih hangat dan interaktif ketika dua penyuluh, Erna dan Retno, mengajak para peserta belajar bahasa isyarat alfabet (A–Z). (7/10)
Pembelajaran ini menjadi selingan menarik di tengah kegiatan pelatihan yang diikuti oleh anak punk binaan Bengkel Hati, peserta disabilitas, serta teman-teman dari ARA Tuna Rungu Mandiraja.
Dengan penuh semangat, peserta mengikuti setiap gerakan tangan yang diperagakan, mencoba mengeja nama masing-masing menggunakan bahasa isyarat alfabet.
Bahasa Isyarat: Jembatan Komunikasi dan Kasih Sayang
Menurut Erna dan Retno, pembelajaran singkat ini bertujuan untuk menumbuhkan empati dan kepedulian terhadap teman-teman penyandang tuli yang juga ikut dalam kegiatan pelatihan.
“Kita ingin menanamkan bahwa komunikasi tidak hanya dengan suara, tapi juga dengan hati. Bahasa isyarat adalah cara kita menunjukkan kepedulian dan menghormati perbedaan,” ujar Erna, salah satu penyuluh yang memandu kegiatan.
Peserta tampak antusias mengikuti pembelajaran. Bahkan, beberapa anak punk dengan bangga memperagakan huruf-huruf isyarat yang baru mereka pelajari, sambil tertawa bersama teman-teman tuna rungu.
“Ternyata seru juga. Saya baru tahu kalau bahasa isyarat itu pakai huruf-huruf tangan. Jadi kita bisa ngomong sama teman yang tuna rungu,” ungkap Rafi, salah satu peserta dari komunitas anak punk.
Sinergi Kegiatan yang Inklusif
Kegiatan pelatihan ini menjadi bukti nyata bahwa program pembinaan dari Penyuluh Agama Islam Mandiraja tidak hanya fokus pada keterampilan ekonomi, tetapi juga pada penguatan nilai-nilai sosial dan kemanusiaan.
Di sela belajar membuat dawet ayu — minuman khas Banjarnegara yang legendaris — peserta juga diajak memahami arti kebersamaan, toleransi, dan saling menghargai.
“Kami ingin setiap kegiatan penyuluhan menjadi ruang bagi siapa pun untuk tumbuh bersama. Hari ini, semua peserta belajar bahwa perbedaan bukan untuk dijauhi, tetapi untuk dipahami,” tutur Retno.
Kegiatan pembelajaran bahasa isyarat ini menambah makna tersendiri dalam rangkaian pelatihan.
Selain menghasilkan karya berupa Dawet Ayu Banjarnegara, kegiatan ini juga berhasil menghadirkan senyum, semangat, dan keakraban lintas komunitas.
Penyuluh Agama Islam Mandiraja berharap, keterampilan sederhana seperti bahasa isyarat dapat terus dipelajari dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga komunikasi dengan penyandang tuli menjadi lebih mudah dan bermakna. (F/ azd)







