Belajar dari Afkaaruna, MIFABARA Perkuat Langkah Pengembangan Program Bilingual

Banjarnegara – Upaya meningkatkan kualitas pembelajaran terus dilakukan MIFABARA. Salah satunya melalui kegiatan study banding yang dilakukan Kepala Madrasah bersama guru kelas 1 MIFABARA ke Ponpes Afkaaruna, Yogyakarta. Kegiatan ini menjadi momentum untuk menggali pengalaman dan praktik baik dalam pengembangan program bilingual di jenjang madrasah ibtidaiyah.(29/8)

Study banding tersebut secara khusus berfokus pada penguatan program bilingual yang menjadi salah satu bagian dari upaya MIFABARA menghadirkan pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Dalam kunjungan tersebut, rombongan MIFABARA berkesempatan melihat secara langsung bagaimana pembelajaran berbasis bahasa diterapkan dalam keseharian peserta didik.

MI di lingkungan Ponpes Afkaaruna menjadi salah satu rujukan menarik karena telah menerapkan pembelajaran berbasis bahasa asing secara berkelanjutan dari kelas 1 hingga kelas 6. Penerapan yang dilakukan secara konsisten tersebut memberikan gambaran bahwa kemampuan berbahasa tidak cukup dibangun melalui pembelajaran di dalam kelas, tetapi perlu dihidupkan dalam berbagai aktivitas dan budaya madrasah.

Kepala Madrasah MIFABARA, Durotun Nafisah, menyampaikan bahwa study banding menjadi kesempatan penting bagi madrasah untuk belajar, mengevaluasi, sekaligus mencari inspirasi yang dapat dikembangkan sesuai dengan karakter dan kebutuhan MIFABARA.

“Kami datang bukan sekadar untuk melihat program yang sudah berjalan, tetapi untuk belajar bagaimana sebuah program bilingual dapat dibangun secara sistematis dan berkelanjutan. Harapannya, pengalaman yang kami dapatkan dapat menjadi bahan pengembangan program bilingual di MIFABARA agar semakin kuat dan berkualitas,” ungkapnya.

Sementara itu, Nila, guru kelas 1 MIFABARA, melihat penerapan bilingual sejak kelas awal sebagai sebuah proses yang menarik dan membutuhkan konsistensi. Menurutnya, pembiasaan bahasa sejak dini dapat membantu peserta didik menjadi lebih familiar dan percaya diri dalam menggunakan bahasa asing.

“Yang menarik bagi saya adalah bagaimana bahasa tidak hanya diajarkan sebagai materi, tetapi menjadi bagian dari aktivitas anak sehari-hari. Ini menjadi inspirasi bagi kami untuk terus mencari cara agar pembelajaran bilingual di kelas 1 dapat terasa menyenangkan, alami, dan sesuai dengan dunia anak,” tutur Nila.

Dari Yogyakarta, MIFABARA membawa pulang bukan sekadar catatan dan dokumentasi, tetapi juga semangat baru: bahwa menghadirkan generasi yang siap berkomunikasi di dunia global harus dimulai dari pembiasaan yang konsisten, lingkungan yang mendukung, dan guru yang terus mau belajar.(nas)