Banjarnegara – Bagi MI Al Fatah Parakancanggah (MIFABARA), proses pendidikan tidak hanya berlangsung ketika guru mengajar di dalam kelas. Waktu istirahat pun menjadi momen berharga untuk mengenal lebih dekat karakter, sikap, dan perkembangan sosial peserta didik melalui pengamatan langsung yang dilakukan oleh guru.(1/8)
Pada jam istirahat, para guru tampak berkeliling lingkungan madrasah sambil mengamati berbagai aktivitas murid. Ada yang bermain sepak bola dengan penuh semangat, ada yang menikmati waktu membaca buku di sudut baca, ada yang bercengkerama dan berbagi cerita dengan teman, serta ada pula yang dengan hangat bermain bersama adik maupun kakak kelas. Suasana yang penuh keceriaan ini menjadi gambaran nyata tumbuhnya budaya madrasah yang ramah, inklusif, dan penuh kebersamaan.
Melalui pengamatan tersebut, guru dapat melihat bagaimana murid berinteraksi, bekerja sama, menyelesaikan perbedaan pendapat, berbagi, menghargai teman, hingga menunjukkan kepedulian kepada sesama. Hasil pengamatan ini menjadi bagian penting dalam memberikan pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan setiap peserta didik, baik dalam aspek sosial, emosional, maupun pembentukan karakter.
Bagi MIFABARA, waktu istirahat bukan sekadar jeda dari kegiatan belajar, tetapi juga ruang bagi murid untuk mengembangkan keterampilan hidup (life skills). Saat bermain, mereka belajar sportivitas dan kerja sama. Saat membaca, mereka menumbuhkan budaya literasi. Saat berbincang dengan teman, mereka melatih komunikasi, empati, dan kemampuan membangun hubungan yang positif.
Kepala MI Al Fatah Parakancanggah, Durotun Nafisah, menjelaskan bahwa setiap aktivitas murid memiliki nilai pembelajaran yang penting apabila diamati dengan penuh perhatian.
“Kami memandang waktu istirahat sebagai bagian dari proses pendidikan. Di sinilah anak-anak menunjukkan karakter mereka secara alami. Guru hadir bukan hanya untuk mengawasi, tetapi juga mengamati, membimbing, dan memastikan setiap murid merasa aman, nyaman, serta mendapatkan ruang untuk tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak mulia, mandiri, dan peduli terhadap sesama,” ungkapnya.
Salah seorang murid turut berbagi kesannya.
“Saat istirahat kami bisa bermain, membaca, dan bercerita bersama teman. Rasanya menyenangkan karena semua saling menghargai dan saling mengajak bermain.”
Melalui pembiasaan ini, MIFABARA terus membangun lingkungan belajar yang tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi juga memperhatikan perkembangan karakter dan keterampilan sosial peserta didik.(nas)







