Bengkel Hati Bersinergi dengan Komunitas Muslim Tunarungu Banjarnegara, Hadirkan Pembelajaran Al-Qur’an yang Inklusif

Banjarnegara (Humas) — Semangat dakwah yang ramah dan inklusif terus diwujudkan oleh Bengkel Hati bersama Komunitas Muslim Tunarungu Banjarnegara melalui kegiatan rutin pembelajaran membaca huruf hijaiyah Al-Qur’an khusus bagi penyandang tunarungu. (29/5/2026)

Kegiatan yang dilaksanakan secara rutin di Bengkel Hati tersebut menjadi ruang belajar sekaligus ruang silaturahmi bagi para peserta untuk lebih mengenal ajaran Islam dengan pendekatan yang mudah dipahami dan komunikatif. Selain belajar membaca huruf hijaiyah Al-Qur’an, para peserta juga mendapatkan pembelajaran tentang tata cara sholat, hafalan doa-doa pendek sehari-hari, praktik ibadah, serta pembinaan akhlak dan keislaman lainnya.

Program ini bertujuan memberikan akses pendidikan agama yang setara bagi penyandang disabilitas, khususnya tunarungu, agar mereka dapat memahami dasar-dasar ibadah dan semakin dekat dengan Al-Qur’an. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan mampu membangun rasa percaya diri, mempererat ukhuwah sesama muslim disabilitas, serta menghadirkan lingkungan belajar agama yang nyaman dan penuh kasih sayang.

Ketua Bengkel Hati, Hendriyanto, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian sosial dan dakwah inklusif agar saudara-saudara penyandang disabilitas juga mendapatkan hak yang sama dalam belajar agama.

 “Kami ingin menghadirkan dakwah yang merangkul semua kalangan. Semoga kegiatan ini menjadi jalan kebaikan dan terus berkembang sehingga saudara-saudara tunarungu semakin dekat dengan Al-Qur’an, memahami ibadah, dan semakin percaya diri dalam menjalankan kehidupan beragama,” ungkap Hendriyanto.

Ke depan, Bengkel Hati juga berencana menghadirkan ustadz dan ustadzah tunarungu untuk memberikan tausyiah dan motivasi kepada para peserta. Langkah tersebut diharapkan dapat menjadi inspirasi sekaligus mempermudah penyampaian materi keagamaan melalui pendekatan bahasa isyarat yang lebih komunikatif.

Salah satu anggota Komunitas Muslim Tunarungu Banjarnegara, Watini, mengaku sangat senang dan terbantu dengan adanya kegiatan tersebut.

“Saya merasa bahagia karena bisa belajar agama bersama teman-teman. Di sini kami merasa diterima dan diperhatikan. Semoga kegiatan ini terus ada dan semakin banyak yang peduli kepada kami,” tuturnya melalui bahasa isyarat.

Para orang tua dan wali peserta juga menyampaikan rasa syukur dan harapan besar terhadap keberlangsungan program ini. Mereka berharap kegiatan tersebut dapat terus berjalan secara rutin sehingga anak-anak penyandang disabilitas memiliki kesempatan belajar agama dengan lebih baik, mandiri dalam beribadah, serta memiliki masa depan yang lebih percaya diri di tengah masyarakat.

Kegiatan rutin ini menjadi bukti bahwa dakwah Islam dapat hadir dengan penuh kasih sayang, tanpa membedakan keterbatasan fisik, serta mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Skip to content