Banjarnegara — Membiasakan murid mencintai Rasulullah SAW tidak hanya dilakukan melalui pembelajaran di kelas, tetapi juga melalui pembiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten. MI Ma’arif Al Falah Joyokusumo (MIMAU) terus menanamkan budaya religius melalui pendisiplinan jadwal shalawat harian yang telah disusun secara teratur untuk menjadi bagian dari aktivitas warga madrasah.
Sebagai bentuk pembiasaan, MIMAU menetapkan jadwal shalawat dengan jenis yang berbeda pada setiap hari. Senin diisi dengan Shalawat Nariyah, Selasa Shalawat Thibil Qulub, Rabu Shalawat Asyghil, Kamis Shalawat Nahdliyah, sedangkan Sabtu Shalawat Busyra. Jadwal tersebut dituangkan dalam media visual yang menarik agar mudah diketahui dan diikuti oleh seluruh warga madrasah. Contohnya hari ini Sabtu, 12 September 2026 pun juga seperti rutinitas biasanya mengumandangkan sholawat Busyro sesuai jadwal.
Penyusunan jadwal tersebut menjadi salah satu langkah MIMAU dalam membangun kedisiplinan dalam amalan harian. Dengan adanya jadwal yang jelas, pembiasaan shalawat diharapkan tidak dilakukan secara insidental, tetapi menjadi rutinitas yang terus dijaga bersama.
Kepala Madrasah MIMAU, Wahyul Khomisah, menyampaikan bahwa pembiasaan keagamaan perlu dilakukan secara konsisten agar dapat tumbuh menjadi karakter dalam diri murid.
“Pembiasaan yang dilakukan secara rutin akan membentuk karakter anak. Kami berharap jadwal shalawat ini tidak hanya menjadi sebuah aturan yang harus diikuti, tetapi menjadi kebiasaan baik yang tumbuh dari kesadaran dan kecintaan kepada Rasulullah SAW,” tutur Wahyul Khomisah.
Menurutnya, kedisiplinan dalam menjalankan amalan sederhana dapat menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan madrasah yang religius. Ketika dilakukan bersama-sama, pembiasaan tersebut juga dapat memperkuat budaya positif di lingkungan MIMAU.
Hal senada disampaikan Nuri Fatimah, wali kelas 1A sekaligus tim jurnalis MIMAU. Menurutnya, pembiasaan shalawat sejak kelas awal sangat penting karena anak-anak membutuhkan kegiatan positif yang dilakukan secara berulang dan menyenangkan.
“Anak-anak kelas 1 masih berada pada tahap membangun berbagai kebiasaan. Ketika shalawat dikenalkan dan dilakukan secara rutin, mereka akan terbiasa melafalkannya dengan baik. Yang paling penting adalah konsistensi, sehingga sedikit demi sedikit shalawat menjadi bagian dari keseharian mereka,” jelas Nuri Fatimah.
Nuri sapaannya juga menilai adanya jadwal khusus dapat membantu murid mengenali berbagai macam shalawat. Dengan tampilan jadwal yang menarik dan mudah dipahami, murid diharapkan semakin termotivasi untuk mengikuti pembiasaan tersebut.
“Jadwal yang teratur membuat anak lebih mudah mengingat. Hari ini shalawat apa, besok shalawat apa, semuanya sudah ada panduannya. Kami berharap pembiasaan ini dapat menumbuhkan rasa cinta kepada Rasulullah sekaligus membentuk sikap disiplin dalam menjalankan amalan baik,” tambah Nuri.
Program pendisiplinan shalawat harian tersebut menjadi salah satu ikhtiar MIMAU dalam menghadirkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada kemampuan akademik, tetapi juga pembentukan karakter religius. Melalui pembiasaan yang dilakukan secara konsisten, madrasah berupaya menanamkan nilai kecintaan kepada Rasulullah SAW sejak usia dini.
Dari jadwal sederhana, MIMAU menanamkan kebiasaan yang istimewa: disiplin bershalawat, membangun kecintaan kepada Rasulullah, dan membentuk karakter religius sejak dini. (NF)







