Cahaya Al-Qur’an Menembus Jeruji: Penyuluh KUA Purwanegara Bina Warga Rutan Banjarnegara

Banjarnegara (Humas) — Suasana khidmat dan penuh harap menyelimuti ruang pembinaan di Rutan P2U Banjarnegara pada Senin (20/4/2026). Di tengah keterbatasan ruang gerak, lima warga binaan perempuan mendapatkan siraman rohani yang menyejukkan hati melalui kegiatan pendampingan dan bimbingan penyuluhan agama Islam.

Kegiatan tersebut dipandu oleh Penyuluh Agama Islam Fungsional Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Purwanegara, Anugrah Windu Setianingsih, yang dengan penuh kelembutan menghadirkan pembelajaran bertema “Tahsin dan Tadabur QS Al-Baqarah Ayat 263–282.” Tema ini dipilih bukan tanpa alasan, melainkan sebagai upaya menguatkan nilai-nilai akhlak, kepedulian sosial, serta kejujuran dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam suasana yang sederhana namun sarat makna, Anugrah Windu membimbing para warga binaan memperbaiki bacaan Al-Qur’an (tahsin), sekaligus mengajak mereka menyelami kandungan ayat (tadabur) yang dibaca. Ayat-ayat tersebut mengandung pesan mendalam tentang pentingnya berkata baik, keutamaan sedekah, serta prinsip amanah dalam bermuamalah.

“Indahnya akhlak, kekuatan sedekah, dan amanah dalam muamalah adalah bekal utama untuk memperbaiki diri dan menata masa depan,” tutur Anugrah Windu Setianingsih di hadapan para peserta dengan penuh ketulusan.

Ia menjelaskan bahwa dalam QS Al-Baqarah ayat 263, Allah menegaskan bahwa perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih utama daripada sedekah yang diiringi dengan menyakiti hati. Pesan ini menjadi pengingat penting bahwa akhlak mulia harus senantiasa dijaga, bahkan dalam kondisi sulit sekalipun.

Selanjutnya, pada ayat-ayat berikutnya hingga ayat 282, para peserta diajak memahami bagaimana Islam mengatur hubungan sosial dan ekonomi secara adil dan transparan. Ayat 282 yang dikenal sebagai ayat terpanjang dalam Al-Qur’an menekankan pentingnya pencatatan transaksi sebagai bentuk tanggung jawab dan amanah dalam bermuamalah.

Kegiatan ini tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga menyentuh sisi emosional para warga binaan. Beberapa di antara mereka tampak terharu saat menyadari bahwa pintu taubat dan perbaikan diri selalu terbuka lebar. Pendampingan ini menjadi ruang refleksi sekaligus motivasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik di masa mendatang.

Salah satu warga binaan mengungkapkan rasa syukurnya atas kegiatan tersebut. “Kami merasa diperhatikan dan diingatkan kembali tentang nilai-nilai kebaikan. Ini sangat berarti bagi kami,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Pendampingan rohani ini menjadi bukti nyata bahwa peran penyuluh agama tidak hanya hadir di tengah masyarakat umum, tetapi juga menjangkau mereka yang sedang menjalani masa pembinaan. Kehadiran Anugrah Windu Setianingsih membawa harapan baru, bahwa setiap individu memiliki kesempatan untuk berubah dan memperbaiki diri.

Melalui kegiatan ini, diharapkan para warga binaan perempuan mampu menginternalisasi nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan mereka, sehingga kelak dapat kembali ke masyarakat dengan pribadi yang lebih baik, penuh akhlak mulia, serta menjunjung tinggi amanah dalam setiap aspek kehidupan.

Di balik tembok pembatas, cahaya Al-Qur’an tetap bersinar, menguatkan hati, menuntun langkah, dan membuka jalan menuju kehidupan yang lebih bermakna. 

(rp/azd)

Skip to content