Banjarnegara – Inovasi pangan sehat karya siswa MTs Negeri 1 Banjarnegara kembali menorehkan prestasi membanggakan. Produk cookies bernama “Coopas” (Cookies Almond Pilihan Anak Sehat Indonesia), yang dikembangkan oleh tim riset resmi mengantongi Sertifikat IzinBerusaha (SIB) dari Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Semarang. Produk ini juga digadang-gadang sebagai salah satu solusi alternatif pencegahan stunting oleh BPOM.
Cookies yang ringan, renyah, dan kaya manfaat ini merupakan hasil olahan dari kombinasi bahan-bahan sehat seperti tepung almond, tepung ubi jalar kuning, susu bubuk, dan kuning telur. Dengan berat bersih 35 gram per kemasan, Coopas dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak Indonesia sekaligus mendukung program nasional percepatan penurunan stunting.
Setya Wulan, perwakilan dari BBPOM Semarang, menyampaikan apresiasinya terhadap karya para siswa MTs Negeri 1 Banjarnegara. Menurutnya, Coopas adalah bukti nyata bahwa edukasi dan inovasi dapat menjadi senjata ampuh dalam menangani isu-isu kesehatan masyarakat.
“Kami sangat bangga terhadap inisiatif dan kreativitas siswa-siswi MTsN 1 Banjarnegara. Produk Coopas ini telah melalui proses evaluasi keamanan pangan dan berhasil mendapatkan Sertifikat Izin Berusaha. Kandungan nutrisinya juga mendukung upaya pencegahan stunting, terutama karena memanfaatkan bahan lokal bergizi tinggi seperti tepung almond dan ubi jalar kuning,” ujar Setya Wulan saat kegiatan wawancara dan verifikasi lapangan lomba sekolah dengan PJAS Aman tingkat nasional.
Tak hanya dari sisi keamanan pangan, produk ini juga mendapatkan pendampingan intensif dari guru pembimbing riset, Tri Widayati, yang telah lama mendorong siswanya untuk berinovasi melalui riset aplikatif di bidang pangan sehat.
“Kami memulai riset ini dari permasalahan nyata yang kami lihat di lingkungan sekitar, yaitu tingginya angka stunting dan kurangnya konsumsi makanan sehat oleh anak-anak. Maka kami pikirkan bagaimana membuat camilan yang tidak hanya enak, tetapi juga sehat dan bergizi,” jelas Tri Widayati.
“Saya bangga sekali dengan semangat anak-anak riset kami. Mereka belajar meriset, memformulasi resep, melakukan uji coba berkali-kali hingga akhirnya membuahkan hasil yang luar biasa.” imbuhnya.
Produk Coopas sendiri dikembangkan oleh dua siswa berbakat, Zaskia Safitri dan Nazwa Ayu, yang tergabung dalam kelompok riset pangan sehat di Madtsansa.
Zaskia mengaku bahwa proses pembuatan Coopas bukanlah hal mudah. Ia dan timnya melakukan berbagai percobaan dan diskusi mendalam untuk mencapai formulasi yang tepat.
“Kami bereksperimen dengan banyak bahan. Kami ingin Coopas bukan hanya sekadar cookies biasa, tapi cookies yang punya manfaat untuk tubuh, terutama dalam mendukung pertumbuhan anak-anak,” ujar Zaskia dengan penuh semangat.
Senada dengan Zaskia, Nazwa Ayu menambahkan bahwa keberhasilan Coopas mendapatkan SIB dari BBPOM adalah motivasi besar bagi mereka untuk terus berinovasi.
“Rasanya senang sekali waktu tahu produk kami diakui BPOM. Ini membuktikan bahwa anak-anak seperti kami juga bisa berkontribusi untuk bangsa. Kami berharap Coopas bisa diproduksi lebih luas dan menjadi camilan sehat favorit anak-anak Indonesia,” tuturnya.
Kandungan bahan-bahan lokal seperti tepung ubi jalar kuning dan almond dipercaya dapat membantu memenuhi kebutuhan protein, vitamin A, serta serat yang penting dalam mendukung tumbuh kembang anak. Coopas juga bebas dari bahan pengawet dan pewarna buatan, menjadikannya pilihan camilan sehat yang aman dikonsumsi anak-anak.
Melalui dukungan BPOM dan pembinaan dari sekolah, Coopas kini tengah dikembangkan untuk produksi skala lebih besar oleh koperasi sekolah. Harapannya, produk ini tidak hanya menjadi karya unggulan Madtsansa, tetapi juga dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat luas. (Lin)







