Dari Bantuan Hingga Bimbingan: PKH dan Penyuluh Agama Bergerak Bersama di Lengsar

Banjarnegara (Humas) – Sebanyak 25 peserta dari Kelompok Penerima Manfaat Program Keluarga Harapan (PKH) menghadiri kegiatan kepenyuluhan yang digelar di Dusun Lengsar, Desa Lawen, Kecamatan Pandanarum, pada Selasa pagi (29/7). Kegiatan yang dimulai pukul 10.00 WIB hingga selesai ini dilaksanakan di salah satu rumah warga setempat, dalam suasana yang akrab dan penuh antusiasme.

Penyuluhan ini menghadirkan tiga narasumber yang menyampaikan materi dari berbagai aspek, baik administratif maupun spiritual. Heri Susanto selaku Pendamping PKH Kecamatan Pandanarum menjadi pembicara utama yang memberikan informasi penting seputar pelaksanaan program PKH kepada para binaan.

Dalam pemaparannya, Heri menyampaikan tiga hal utama yang menjadi perhatian penerima manfaat. Pertama, terkait pencairan dana PKH, ia mengimbau agar para penerima memantau informasi resmi dari pendamping dan tidak mudah percaya pada isu-isu yang tidak jelas sumbernya. Kedua, ia menjelaskan tindakan yang harus dilakukan jika kartu ATM PKH mengalami kerusakan atau hilang, termasuk prosedur pengurusan ulang di bank terkait. Ketiga, Heri menekankan pentingnya menjaga kerahasiaan dan keamanan data pribadi, seperti nomor rekening dan PIN, untuk mencegah penyalahgunaan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Selain informasi administratif, penyuluhan ini juga diisi dengan pembinaan keagamaan dan sosial. Turno Penyuluh Agama Islam Kecamatan Pandanarum mengajak para peserta untuk mensyukuri nikmat Allah dalam kehidupan sehari-hari. Ia mengingatkan bahwa program bantuan seperti PKH adalah bentuk kasih sayang Allah yang dititipkan melalui pemerintah, dan harus disikapi dengan rasa syukur dan tanggung jawab.

Sementara itu, Efatun yang juga selaku Penyuluh Agama memberikan materi tentang pentingnya silaturahmi dan semangat tolong-menolong dalam kehidupan bermasyarakat. Ia menekankan bahwa bantuan bukan hanya soal materi, tetapi juga hadir dalam bentuk perhatian dan dukungan sosial antar tetangga.

“Kadang bantuan terbaik bukan uang, tapi sapaan, dukungan, dan bantuan tenaga saat tetangga kita kesusahan,” ucap Efatun.

Kegiatan ini berlangsung dengan interaksi yang hidup antara peserta dan narasumber. Para peserta juga menyampaikan berbagai pertanyaan dan pengalaman pribadi yang kemudian dijadikan bahan diskusi bersama. Di akhir kegiatan, suasana ditutup dengan penuh kehangatan dan kesadaran baru akan pentingnya bersinergi antara aspek bantuan sosial dan nilai-nilai spiritual.

Dengan adanya penyuluhan ini, diharapkan para peserta tidak hanya mendapatkan informasi praktis mengenai program PKH, tetapi juga pembinaan moral dan spiritual yang dapat memperkuat ketahanan sosial keluarga di tingkat masyarakat desa. (ev/azd)

Skip to content