Banjarnegara – Sabtu, 26/04/25 menjadi hari yang berkesan bagi siswa kelas enam angkatan kedelapan (SKEIGHTER) MI Miftahul Mubtadi’in Kaliwinasuh (MIMUB). Mereka mengikuti ujian praktik memasak dengan tantangan yang unik: menciptakan menu “empat sehat lima sempurna” dengan sentuhan kreativitas masing-masing. Bukan sekadar ujian, acara ini lebih terasa seperti perayaan kreativitas kuliner para siswa.
Ujian praktik ini dibagi dalam kelompok-kelompok kecil, masing-masing beranggotakan lima hingga enam siswa. Tugas mereka adalah menyajikan menu lengkap, mulai dari hidangan utama hingga penutup, disertai minuman. Hasilnya sungguh mengejutkan para guru dan juri. Kreativitas siswa melampaui ekspektasi, menghasilkan beragam menu yang mengagumkan.
Menu-menu yang disajikan pun beragam, tidak hanya terbatas pada masakan Indonesia. Aneka hidangan Nusantara seperti ayam penyet berdampingan dengan sajian internasional seperti steak ayam, ayam teriyaki, ayam katsu, dan udang asam manis. Semuanya disajikan dengan apik, layaknya restoran berbintang, lengkap dengan tata hidang table manner yang menambah nilai estetika.
Nayla, salah satu siswa yang menyajikan steak ayam, mengungkapkan pengalaman berharganya. “Sebelumnya di rumah saya jarang memasak, jadi seru sekali bisa belajar masak bareng teman-teman.” ujarnya
Nayla mengaku sangat puas dengan hasil kerja kerasnya bersama kelompoknya, terutama karena bisa menikmati hidangan bersama guru dan teman-teman. “Rasanya puas banget bisa makan bersama ustadz dan ustadzah, serta teman-teman. Masakannya enak!” tambahnya dengan penuh semangat.
Nurhayati, salah satu tim penilai ujian praktik memasak, menjelaskan alasan di balik tantangan menu “empat sehat lima sempurna”. “Kami ingin mendorong kreativitas siswa agar tidak monoton,” jelasnya.
“Menu tidak dibatasi, yang penting memenuhi tema tersebut,” imbuhnya
Nurhayati mengaku sangat terkesan dengan hasil karya siswa. “Tidak disangka, menu yang dibuat sangat bervariasi, dari masakan nusantara hingga Jepang dan Barat. Yang terpenting, semuanya enak!” pujinya. Ia bahkan menambahkan bahwa rasa masakan para siswa tak kalah dengan masakan rumahan yang sudah terbiasa.
Dukungan orang tua juga menjadi kunci keberhasilan ujian praktik ini. Nurmiati, salah satu orang tua siswa, mengungkapkan rasa puasnya meskipun harus menghadapi kesibukan dalam mempersiapkan bahan-bahan. “Alhamdulillah, keriwehan yang memuaskan untuk anak-anak,” ujarnya.
Ia merasa kegiatan ini memberikan pengalaman belajar yang berharga dan berbeda bagi anaknya. Ujian praktik memasak ini bukan sekadar penilaian akademik, melainkan juga wahana untuk mengembangkan keterampilan hidup dan kreativitas siswa. Semoga pengalaman berharga ini dapat meningkatkan skill memasak mereka dan menjadi bekal berharga di masa depan. Kegiatan ini juga menunjukkan sinergi yang positif antara sekolah, siswa, dan orang tua dalam mendukung pengembangan potensi anak. (rs)







