Banjarnegara — Gelaran Festival Anak Sholeh Indonesia (FASI) ke-V tingkat Kabupaten Banjarnegara yang berlangsung pada Ahad (7/12) di MTs Negeri 2 Banjarnegara berjalan meriah dan lancar. Pada ajang tiga tahunan yang digelar oleh Badko LPQ Kabupaten Banjarnegara ini, dua guru MTs Negeri 1 Banjarnegara turut ambil peran penting sebagai dewan juri, yakni Hj. Umi Mahmudah dan Linara.
Berdasarkan daftar resmi panitia, Hj. Umi Mahmudah ditugaskan sebagai dewan juri cabang Tartil Al-Qur’an tingkat TPA sementara Linara dipercaya sebagai dewan juri cabang Kisah Islami tingkat TQA. Keduanya menjadi bagian dari ratusan penggerak FASI yang berasal dari berbagai lembaga pendidikan Al-Qur’an, sekolah, dan komunitas masyarakat pemerhati Al-Qur’an di Banjarnegara.
Kepala MTs Negeri 1 Banjarnegara, H. Yatiman, menyampaikan apresiasi yang tinggi atas kiprah dua guru tersebut.
“Kami sangat bangga karena Bu Umi Mahmudah dan Bu Linara kembali dipercaya menjadi juri pada FASI tahun ini. Ini menunjukkan kompetensi para guru Madtsansa tidak hanya diakui di lingkungan madrasah, tetapi juga oleh masyarakat kabupaten. Kontribusi ini menjadi bagian dari pengabdian kami untuk turut mencetak generasi Qur’ani di Banjarnegara,” ungkapnya.
Yatiman juga menambahkan bahwa keterlibatan guru dalam kegiatan eksternal seperti FASI akan menjadi motivasi bagi siswa Madtsansa untuk terus meningkatkan prestasi dan kecintaan mereka pada Al-Qur’an.
“Semoga kehadiran guru-guru kami dapat memberikan warna positif dan memberi inspirasi kepada santri peserta lomba,” lanjutnya.
Ketua Panitia FASI V, Rosikhun yang juga pengurus Badko LPQ sekaligus pengurus Komite MTs Negeri 1 Banjarnegara—menyampaikan terima kasih atas kesediaan dua guru tersebut membantu menyukseskan acara.
“Kami mengundang Bu Umi dan Bu Linara karena kompetensi mereka memang sudah teruji. Bu Umi sangat berpengalaman dalam bidang tartil dan pembelajaran Al-Qur’an, sementara Bu Linara memiliki kemampuan bahasa, retorika, dan seni bercerita yang sangat dibutuhkan dalam penilaian Kisah Islami. Kehadiran mereka membuat penjurian berjalan objektif, tertib, dan profesional,” ujar Rosikhun.
Ia juga menyebut bahwa FASI tahun ini melibatkan banyak juri dari berbagai lembaga, namun kesigapan para guru MTs Negeri 1 Banjarnegara sangat membantu kelancaran kegiatan dari awal hingga akhir.
Ditemui usai pelaksanaan penjurian, Hj. Umi Mahmudah mengaku bersyukur dapat kembali dilibatkan dalam kegiatan besar yang mempertemukan para santri berprestasi dari seluruh Banjarnegara.
“Menjadi juri bukan sekadar menilai, tetapi amanah untuk menjaga kualitas pembelajaran Al-Qur’an di tingkat TPA. Para santri tampil luar biasa. Banyak yang bacaannya sudah sangat baik, tertib tajwid, dan penuh adab. Ini membuat kami para juri harus ekstra cermat dalam memberikan penilaian,” ungkapnya.
Ia berharap para santri terus mencintai Al-Qur’an dan menjadikannya pedoman hidup.
“Saya bangga melihat semangat mereka. Semoga semakin banyak santri yang tumbuh dengan karakter Qur’ani,” imbuhnya.
Sebagai juri cabang Kisah Islami tingkat TQA, Linara juga membagikan pengalaman berkesan selama penjurian.
“Lomba Kisah Islami bukan hanya tentang bagaimana peserta menyampaikan cerita, tetapi juga bagaimana mereka menghadirkan nilai akhlak, keteladanan, dan pesan yang menyentuh hati. Banyak peserta yang tampil penuh percaya diri dan kreatif. Saya merasa bangga menyaksikan kualitas para santri kita,” ujar Linara.
Menurutnya, kisah-kisah islami yang dibawakan santri mampu menjadi sarana edukasi moral yang penting di tengah perkembangan zaman.
“Anak-anak butuh teladan, dan lomba ini membantu mereka menggali keteladanan dari sejarah Islam dan menghidupkannya dalam bentuk cerita,” katanya.
FASI ke-V Kabupaten Banjarnegara mengusung tema “Mengawal Santri Hebat Menuju Indonesia Emas” selaras dengan tujuan penyelenggaraan FASI sebagai ajang silaturahmi, evaluasi kualitas pembelajaran Al-Qur’an, serta wadah pengembangan bakat dan kreativitas santri di bidang keislaman.
Keikutsertaan dua guru MTs Negeri 1 Banjarnegara dalam jajaran dewan juri menegaskan komitmen madrasah tersebut dalam mendukung pembinaan generasi Qur’ani di Banjarnegara. Melalui dedikasi para guru, Madtsansa tak hanya berprestasi di internal lembaga, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat luas. (Fy)







