“Duduk di Majelis Taklim Itu Mahal”: Penyuluh Agama Mandiraja Giatkan Bimbingan di MT AN-NUR

Banjarnegara (Humas) – Dalam upaya menanamkan nilai-nilai keislaman yang kokoh di tengah masyarakat, Penyuluh Agama Islam Kecamatan Mandiraja kembali menggelar kegiatan bimbingan keagamaan yang menyentuh hati dan membangkitkan semangat spiritual. Bertempat di Majelis Taklim AN-NUR Desa Kaliwungu, kegiatan kali ini mengangkat tema yang unik namun sarat makna: “Duduk-duduk di Majelis Taklim Itu Mahal.” (23/7)

Kegiatan yang dihadiri oleh puluhan ibu-ibu jamaah serta remaja putri tersebut berlangsung khidmat dan hangat. Ketua Majelis Taklim AN-NUR, Ibu Turyati, menyampaikan rasa syukurnya atas kehadiran para penyuluh agama yang terus memberikan perhatian kepada masyarakat di tingkat akar rumput.

“Kami merasa bersyukur dan bangga, karena MT AN-NUR terus mendapatkan perhatian dan bimbingan dari para penyuluh agama Islam Mandiraja. Tema hari ini sangat menyentuh, mengingatkan kita semua bahwa hadir di majelis ilmu bukanlah rutinitas biasa, tetapi ibadah yang sangat mulia,” ujar Ibu Turyati dalam sambutannya.

Penyampaian materi dilakukan secara interaktif dan penuh hikmah oleh tim penyuluh, yang menekankan bahwa hadir di majelis ilmu adalah bagian dari perjalanan spiritual yang penuh keberkahan. Meski tampaknya hanya “duduk dan mendengar”, hakikatnya, majelis taklim adalah tempat berkumpulnya malaikat dan turunnya rahmat Allah SWT.

“Duduk di majelis taklim bukan hanya soal mendengar ceramah. Itu adalah bukti cinta kita kepada ilmu dan agama. Siapa yang menempuh jalan ilmu, Allah akan mudahkan jalannya menuju surga,” tegas salah satu penyuluh saat memberikan materi.

Kegiatan ini juga mendapatkan dukungan penuh dari Kepala KUA Kecamatan Mandiraja, H. Irfan Sulastono, yang turut hadir memberikan sambutan. Ia menegaskan pentingnya majelis taklim dalam membina karakter dan spiritualitas keluarga, khususnya bagi para ibu sebagai pendidik utama generasi muda.

“Majelis taklim adalah benteng akhlak dan ilmu. KUA Mandiraja sangat mendukung kegiatan penyuluhan ini, karena ibu-ibu di sinilah yang menjadi madrasah pertama bagi anak-anak. Semangat menuntut ilmu harus terus dijaga,” ungkap H. Irfan.

Acara ditutup dengan sesi tanya jawab, doa bersama, dan ramah tamah. Para peserta mengaku sangat termotivasi dan berharap kegiatan seperti ini bisa rutin dilaksanakan.

“Alhamdulillah, kami pulang membawa ilmu dan semangat. Judulnya sederhana, tapi maknanya dalam sekali,” ungkap Ibu Sumarni, salah satu jamaah dengan wajah penuh haru.

Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa penyuluh agama Islam bukan hanya hadir secara formal, tetapi juga membawa cahaya ilmu dan semangat perubahan di tengah masyarakat. (M/H, azd)

Skip to content