Geliat Ekonomi Umat: Penyuluh Agama KUA Pagentan Monitoring Usaha Klathak Dan Kopi Arabica di Pagentan

Banjarnegara (Humas) – Semangat kemandirian ekonomi ditunjukkan oleh para mustahik produktif di wilayah Jawa Tengah. Pada Jumat (17/4/2026), M. Syaiful Abidin, selaku Penyuluh Agama Islam sekaligus Pendamping Mustahik Produktif BAZNAS Provinsi Jawa Tengah, melakukan kegiatan monitoring dan evaluasi (Monev) rutin. Kali ini, kunjungan menyasar kediaman Septiana Puji Rahayu, seorang pelaku usaha mikro yang sukses mengembangkan penganan lokal di Dusun Bulu, Desa Pagentan.

Septiana, atau yang akrab disapa Septi, merupakan salah satu mustahik binaan yang dinilai berhasil mentransformasikan bantuan modal menjadi usaha yang berkelanjutan. Produk unggulannya, makanan ringan khas Pagentan yang dikenal dengan nama “Klathak”, kini telah memiliki pangsa pasar yang stabil. Tidak berhenti di situ, Septi menunjukkan ketangguhannya sebagai pengusaha dengan mengekspansi lini bisnisnya ke produksi kopi bubuk Arabica khas Pagentan, sebuah potensi komoditas lokal yang digarap serius bersama suaminya, Usman.

Dalam kunjungan tersebut, Syaiful Abidin mengapresiasi ketekunan Septi dalam mengelola bantuan yang diberikan oleh BAZNAS. Menurutnya, keberhasilan ini adalah bukti bahwa pendampingan yang intensif mampu mengubah taraf hidup masyarakat.

“Kami hadir di sini bukan sekadar melihat angka statistik, melainkan memastikan bahwa api semangat kewirausahaan itu tetap menyala. Mbak Septi adalah potret nyata mustahik yang tangguh; beliau tidak hanya mandiri secara ekonomi, tapi juga mampu mengangkat potensi lokal Pagentan seperti Klathak dan Kopi Arabica ke level yang lebih baik,” ujar M. Syaiful Abidin di sela-sela pemantauan produksi.

Septi sendiri mengaku sangat terbantu dengan adanya pengawasan dan motivasi yang diberikan oleh pihak pendamping. Baginya, dukungan modal saja tidak cukup tanpa dibarengi dengan bimbingan manajemen dan kepercayaan diri.

“Saya sangat bersyukur atas bimbingan Pak Syaiful dan dukungan BAZNAS Jateng. Usaha Klathak ini adalah napas ekonomi keluarga kami. Sekarang, dibantu suami, saya juga mulai fokus ke kopi Arabica karena potensinya besar di sini. Harapan saya, usaha ini bisa terus berkembang hingga nanti saya bisa berganti posisi dari penerima manfaat menjadi pemberi manfaat bagi orang lain,” ungkap Septi dengan penuh optimisme.

Kegiatan monitoring ini diakhiri dengan diskusi mengenai strategi pemasaran digital agar produk Klathak dan Kopi Arabica asal Pagentan ini dapat menjangkau konsumen yang lebih luas di luar daerah Banjarnegara dan sekitarnya. 

(msa/azd)

Skip to content