Banjarnegara – Di balik khidmatnya prosesi Khotmil Kitab dan Khotmil Qur’an pada Haflah Akhirissanah ke-125 PP Al Fatah Parakancanggah, ada dua sosok yang turut menghidupkan suasana dengan penuh wibawa dan ketulusan. Mereka adalah Afid dan Aska, guru MIFABARA yang juga merupakan santri PP Al Fatah. Keduanya dipercaya menjadi MC dalam dua rangkaian sakral tersebut, sebuah amanah yang dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan cinta.(13/2)
Dengan tutur kata yang santun, intonasi yang terjaga, serta adab yang mencerminkan didikan pesantren, Afid memandu prosesi Khotmil Kitab dengan penuh ketenangan. Setiap kalimat yang ia sampaikan mengalir rapi, menuntun hadirin menyelami makna demi makna dari perjalanan panjang para santri dalam menuntaskan kitab-kitab turats. Tidak sekadar membacakan susunan acara, ia menghadirkan ruh penghormatan terhadap ilmu dan para pewarisnya.
Sementara itu, pada prosesi Khotmil Qur’an, Aska tampil dengan kelembutan suara yang menenangkan. Untaian kata pembukanya seakan menjadi jembatan antara langit dan bumi, mengantarkan hati para hadirin pada suasana yang lebih dalam dan khusyuk. Setiap transisi acara ia bawakan dengan penuh penghayatan, membuat suasana semakin syahdu dan bermakna.
Sebagai guru MIFABARA sekaligus santri PP Al Fatah, kehadiran Afid dan Aska bukan hanya sebagai pembawa acara, tetapi sebagai representasi kesinambungan nilai. Mereka adalah bukti bahwa didikan pesantren melahirkan generasi yang tidak hanya cakap dalam ilmu, tetapi juga matang dalam adab dan rasa tanggung jawab.
Salah satu panitia menyampaikan apresiasinya, “Keduanya membawakan acara dengan sangat apik. Terasa sekali nuansa pesantren yang kuat, tenang, tertib, dan penuh penghormatan.”
Afid mengungkapkan rasa syukurnya atas kepercayaan yang diberikan. “Menjadi MC di acara sakral seperti ini bukan sekadar tugas berbicara di depan umum, tetapi amanah untuk menjaga suasana tetap khidmat. Kami ingin setiap kata yang terucap menjadi bagian dari doa dan penghormatan untuk para santri serta guru-guru kami,” tuturnya.
Senada dengan itu, Aska juga menyampaikan perasaannya. “Sebagai santri PP Al Fatah dan guru di MIFABARA, ini adalah kehormatan besar. Kami belajar bahwa setiap peran, sekecil apa pun, jika diniatkan karena Allah, akan bernilai ibadah. Semoga apa yang kami sampaikan dapat mengantarkan keberkahan bagi semua yang hadir,” ujarnya dengan penuh ketulusan.
Haflah Akhirissanah bukan sekadar panggung seremonial. Di tangan Afid dan Aska, setiap jeda terasa bermakna, setiap pengumuman terasa sakral. Mereka menghadirkan suasana yang bukan hanya tertata secara teknis, tetapi juga menyentuh secara batin. Dari lisan mereka, acara mengalir dengan harmoni, sebuah persembahan cinta untuk ilmu, untuk guru, dan untuk para santri yang telah menuntaskan perjalanan panjangnya.(nas)







