Guru MTs N 1 Banjarnegara Simak Siaran Ulang Peluncuran Kurikulum Berbasis Cinta Kemenag RI

Banjarnegara – Suasana hangat penuh kekhidmatan menyelimuti ruang guru MTs Negeri 1 Banjarnegara pada Senin pagi (28/7), saat semua guru yang tidak sedang mengajar secara bersama-sama menyimak siaran ulang peluncuran Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang digagas oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. Acara peluncuran yang semula dilaksanakan pada 24 Juli 2025 di Asrama Haji Embarkasi Makassar ini merupakan tonggak transformasi pendidikan madrasah menuju arah yang lebih humanis, harmonis, dan berlandaskan cinta kasih dalam setiap proses pembelajaran.

Peluncuran Kurikulum Berbasis Cinta yang disiarkan ulang melalui kanal resmi YouTube Kemenag, mendapat sambutan antusias dari para pendidik MTsN 1 Banjarnegara. Kepala MTsN 1 Banjarnegara, Yatiman, dalam sambutannya menyampaikan harapan besar terhadap kurikulum baru ini. “Kurikulum Berbasis Cinta adalah jawaban atas tantangan zaman. Di tengah arus globalisasi dan krisis kemanusiaan, pendidikan madrasah harus hadir sebagai oase yang menumbuhkan nilai empati, toleransi, dan cinta kasih dalam diri siswa,” ujarnya.

Yatiman menambahkan bahwa Madtsansa siap mengimplementasikan KBC secara bertahap.

“Kami akan mulai dengan pembiasaan sederhana, seperti membangun budaya saling menghargai antarguru dan siswa, hingga pelatihan bagi para guru dalam mengintegrasikan nilai-nilai cinta dalam proses pembelajaran,” lanjutnya.

Dalam peluncuran tersebut, Menteri Agama Republik Indonesia H. Nasaruddin Umar, menyampaikan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta dirancang sebagai respons terhadap fenomena dehumanisasi dan konflik sosial yang marak terjadi, baik di level lokal maupun global.

“Kita ingin mencetak generasi yang bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga peka secara emosional dan spiritual. Kurikulum ini menanamkan nilai-nilai cinta, empati, dan penghargaan terhadap sesama dan alam semesta,” tegas Menag dalam pidatonya.

Wakil Kepala Madrasah bidang Kurikulum, Yuniyati, menyampaikan bahwa keunggulan utama dari KBC adalah pendekatannya yang holistik dan kontekstual.

“KBC mengajarkan siswa untuk mengenal Tuhan melalui cinta, memahami ilmu sebagai jalan kebijaksanaan, dan memperlakukan lingkungan serta sesama manusia dengan kasih sayang. Ini sejalan dengan prinsip-prinsip pendidikan karakter yang telah kami bangun di madrasah,” jelasnya.

Sementara itu, Musfiatul Muniroh, guru Bahasa Arab di MTsN 1 Banjarnegara, mengungkapkan bahwa integrasi nilai cinta dalam mata pelajaran bisa dilakukan dengan mengedepankan aspek akhlak dan makna.

“Dalam pelajaran Bahasa Arab, kami akan menekankan pemahaman terhadap nilai-nilai rahmah dan hikmah yang terkandung dalam teks. Tidak hanya sekadar menterjemahkan, tapi juga menyerap ruh kasih sayang di balik bahasa,” ucapnya.

Hal senada disampaikan oleh Estu Dyah Fitriyani, guru Matematika, yang melihat KBC sebagai peluang untuk menjadikan pelajaran eksak lebih membumi.

“Matematika selama ini dianggap kaku dan terlepas dari nilai-nilai kehidupan. Melalui pendekatan KBC, kami bisa membangun pembelajaran yang tidak hanya mengasah logika, tapi juga mengasah hati. Misalnya, mengaitkan konsep keadilan dalam pembagian, atau mengangkat kisah tokoh-tokoh matematika muslim yang penuh integritas,” ungkapnya penuh semangat.

Kegiatan ini ditutup dengan refleksi bersama dan penyusunan rencana aksi sederhana oleh para guru. Beberapa ide awal mencakup penyusunan modul pembelajaran berbasis cinta, kegiatan literasi empati, dan dialog terbuka antara guru dan siswa untuk menciptakan ruang aman (safe space) dalam proses belajar-mengajar.

Dengan semangat baru yang diusung Kurikulum Berbasis Cinta, para pendidik MTsN 1 Banjarnegara menyatakan komitmen mereka untuk menjadi pelopor madrasah yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga membahagiakan. (Lin)

Skip to content