Hadirkan Edukasi Kekinian, Penyuluh Purwanegara Bahas Bahaya FOMO dari Perspektif Keagamaan di Majelis Taklim

Banjarnegara (Humas) — Upaya penguatan ketahanan keluarga di tengah derasnya arus perkembangan teknologi dan media sosial terus dilakukan oleh jajaran Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Purwanegara melalui kegiatan bimbingan dan penyuluhan keagamaan kepada masyarakat. Salah satu kegiatan tersebut dilaksanakan oleh Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Purwanegara, Retno Purnawati, yang memberikan materi bertema “Menjaga Keluarga dari Bahaya FOMO (Fear of Missing Out)” kepada jamaah Majelis Taklim Nasyiatul Aisyiyah Desa Gumiwang pada Senin (11/5/2026). Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung Madin Muhammadiyah Gumiwang dan diikuti dengan antusias oleh ibu-ibu muda serta para anggota majelis taklim.

Dalam penyampaiannya, Retno menegaskan bahwa fenomena FOMO atau Fear of Missing Out merupakan salah satu tantangan nyata yang dihadapi keluarga masa kini. FOMO adalah kondisi ketika seseorang merasa takut tertinggal tren, aktivitas, gaya hidup, atau informasi yang sedang ramai diperbincangkan, terutama di media sosial. Jika tidak disikapi dengan bijak, kondisi tersebut dapat memengaruhi pola pikir, gaya hidup, bahkan keharmonisan dalam keluarga.

“Bahaya FOMO itu sangat luar biasa. Banyak orang tanpa sadar rela mengorbankan waktu, ketenangan, bahkan nilai-nilai keluarga hanya demi mengikuti apa yang sedang viral atau dianggap menarik oleh lingkungan sekitar,” ujar Retno di hadapan jamaah.

Ia menjelaskan bahwa para ibu memiliki peran yang sangat penting sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya. Oleh karena itu, para orang tua harus mampu menjadi teladan dalam penggunaan media sosial, pengelolaan gaya hidup, serta penguatan nilai agama di dalam rumah. Menurutnya, orang tua jangan sampai justru menjadi pelaku FOMO yang tanpa sadar memberikan contoh kurang baik kepada anak-anak.

Retno juga mengingatkan bahwa dampak FOMO tidak hanya terjadi pada remaja, tetapi juga pada orang dewasa, termasuk para ibu muda. Keinginan untuk selalu terlihat mengikuti tren, membandingkan kehidupan dengan orang lain, atau merasa gelisah ketika tidak mengikuti perkembangan media sosial dapat memicu stres, kecemasan, hingga melemahkan komunikasi dalam keluarga.

Melalui kegiatan penyuluhan ini, Retno mengajak seluruh jamaah untuk membangun keluarga yang lebih kuat dengan menanamkan rasa syukur, hidup sederhana, serta membiasakan penggunaan teknologi secara sehat dan bertanggung jawab. Ia berharap para ibu dapat menjadi benteng utama dalam menjaga anak-anak dari pengaruh negatif perkembangan zaman, sekaligus menciptakan keluarga yang harmonis, religius, dan penuh ketenangan. 

(rp/azd)

Skip to content