Banjarnegara (Humas) – Keinginan untuk meraih kesempurnaan dalam ibadah menjadi magnet utama bagi puluhan Ibu-ibu Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) di Kelurahan Krandegan. Dalam pertemuan rutin kelompok yang digelar pada Selasa (5/5), suasana terasa berbeda dengan kehadiran Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Banjarnegara, Ani Musyarofah yang memberikan materi krusial: Perkara-perkara Makruh dalam Shalat.
Penyuluh Agama Islam, dalam penyampaiannya yang komunikatif, menekankan bahwa shalat bukan sekadar menggugurkan kewajiban. Beliau mengingatkan agar warga waspada terhadap hal-hal yang dapat mengurangi pahala atau keutamaan shalat, meskipun tidak sampai membatalkannya.
“Seringkali kita tidak sadar melakukan hal-hal yang makruh, seperti menoleh tanpa keperluan, memejamkan mata terlalu rapat, atau bermain-main dengan pakaian saat berdiri tegak. Jangan sampai shalat kita terasa sia-sia atau kehilangan kekhusyukannya hanya karena kurangnya ketelitian kita,” pesannya di hadapan para warga.
Dalam kajian tersebut, dijelaskan beberapa poin makruh yang sering dianggap remeh, di antaranya: menahan hajat (buang air atau lapar yang sangat) saat shalat, melihat ke atas atau ke arah langit-langit, berkacak pinggang saat berdiri dan menyingsingkan pakaian atau merapikan kerudung secara berlebihan yang mengganggu konsentrasi.
Antusiasme warga terlihat saat sesi tanya jawab dibuka. Banyak peserta yang baru menyadari bahwa detail-detail kecil tersebut memiliki hukum makruh dalam fikih.
“Jujur saya baru tahu kalau menoleh sedikit karena ada suara itu makruh. Penjelasan Penyuluh sangat ringan dan mudah kami pahami,” ungkap Siti, salah satu anggota PKH.
Kegiatan ini diharapkan tidak hanya meningkatkan pemahaman keagamaan warga PKH, tetapi juga memperbaiki kualitas spiritualitas masyarakat di tengah kesibukan harian. Dengan memahami hal-hal yang makruh, diharapkan shalat yang didirikan menjadi lebih berkualitas, khusyuk, dan mendatangkan ketenangan batin yang sejati.







