Banjarnegara (Humas) – Kegiatan Perjusa (Perkemahan Jum’at Sabtu) Pramuka Penggalang Gugus Depan MTs Negeri 1 Banjarnegara memasuki puncak tantangan pada Sabtu (1/11) dengan dilaksanakannya kegiatan Jelajah Alam. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh peserta Perjusa yang merupakan siswa kelas 7. Setiap kelas dibagi menjadi tiga hingga empat regu, sehingga total terdapat lebih dari 35 regu yang turut serta dalam rute penjelajahan yang mengelilingi desa-desa sekitar MTs Negeri 1 Banjarnegara.
Jelajah alam dimulai sekitar pukul 07.30 WIB usai apel pagi. Namun, sebelum setiap regu diberangkatkan, mereka wajib menyelesaikan tantangan awal berupa penerjemahan kode semaphore yang diberikan oleh pemandu. Hanya regu yang berhasil menjawab dengan benar yang diperbolehkan memulai perjalanan. Hal ini menjadi momen seru pertama yang langsung menguji konsentrasi, kerja sama, dan pengetahuan kepramukaan para peserta.
Pembina Pramuka MTs Negeri 1 Banjarnegara, Ikhsanudin, menyampaikan bahwa jelajah alam bukan sekadar kegiatan berjalan mengelilingi desa, melainkan sarana pendidikan karakter yang terstruktur.
“Dalam Pramuka, setiap kegiatan harus bernilai pendidikan. Jelajah alam ini bukan hanya fisik, tetapi juga melatih ketangkasan berpikir, kedisiplinan, dan solidaritas dalam regu. Tantangan semaphore yang menjadi pintu awal adalah bentuk stimulasi agar adik-adik tidak hanya berjalan, tetapi juga berpikir,” ujar Ikhsanudin.
Hal senada disampaikan oleh pembina lainnya, Surya Widhi Prakosa, yang mendampingi peserta dari titik start hingga penyelesaian rute.
“Rute yang dipilih mengitari desa sekitar madrasah, melewati jalan setapak, pemukiman warga, hingga area persawahan. Kami ingin anak-anak merasakan langsung belajar di alam, bukan hanya dalam ruang kelas. Selain itu, mereka juga diajarkan etika berinteraksi dengan warga, menjaga kebersihan, dan saling menjaga dalam perjalanan,” jelas Surya.
Ketua panitia Perjusa, sekaligus Pratama Putri–Alya, mengungkapkan bahwa jalannya kegiatan berjalan lancar dan penuh antusiasme dari peserta.
“Walaupun rutenya cukup panjang, semangat mereka tidak pernah turun. Justru mereka terlihat kompak, saling menyemangati, dan berusaha menjadi regu tercepat tiba di pos akhir. Tantangan pos-pos yang mereka lewati juga beragam, ada yang menguji materi tali-temali, yel-yel, hingga PBB. Semua dirancang agar tidak hanya fisik yang bergerak, tetapi juga keterampilan kepramukaan mereka terasah,” ungkap Alya.
Para peserta juga menyampaikan kesan mereka setelah mengikuti jelajah alam. Tsaqif, siswa kelas 7F, mengaku bahwa kegiatan ini jauh lebih seru daripada yang ia bayangkan.
“Awalnya saya kira cuma jalan jauh, tapi ternyata banyak tantangannya. Yang paling sulit itu semaphore di awal, karena harus cepat dan tepat. Tapi setelah bisa berangkat, rasanya bangga karena regu kami termasuk yang tercepat,” ujarnya.
Sementara itu, Naila, siswi kelas 7H, menyoroti kekompakan regunya yang semakin terasa karena harus saling membantu selama perjalanan.
“Tadi ada teman yang mulai capek, jadi kami gantian bawakan air minum dan nyemangatin terus. Di pos yel-yel kami dapat pujian karena suaranya kompak. Jadi walau capek, rasanya senang sekali,” ungkapnya dengan wajah ceria.
Menurut panitia, jelajah alam berakhir sekitar pukul 10.30 WIB dan seluruh regu kembali ke bumi perkemahan tanpa hambatan berarti. Warga sekitar yang menjadi bagian dari rute pun turut mengapresiasi kegiatan ini karena berlangsung tertib dan membawa suasana hidup di lingkungan desa.
Di akhir kegiatan, para peserta dikumpulkan kembali di lapangan untuk refleksi dan penilaian. Regu yang meraih nilai tertinggi dari rangkaian pos akan diumumkan pada penutupan Perjusa.
Ikhsanudin menegaskan kembali tujuan dari seluruh rangkaian kegiatan Pramuka tersebut.
“Kami ingin membentuk generasi yang tangguh, berakhlak baik, mampu bekerja sama, dan siap menghadapi tantangan. Melalui Pramuka, kami belajar bukan hanya dengan teori, tapi melalui pengalaman langsung. Itulah pendidikan karakter yang sesungguhnya,” tegasnya.
Dengan berakhirnya kegiatan jelajah alam, peserta Perjusa tinggal menantikan prosesi penutupan pada Sabtu sore. Semangat, tawa, dan pengalaman berharga di alam terbuka menjadi bekal yang akan dikenang oleh para penggalang Madtsansa dalam perjalanan pendidikan mereka. (Fy/La)







