KUA Mandiraja Jadi Tim Penilai Praktik Pemulasaran Jenazah pada Ujian Perangkat Desa

Banjarnegara (Humas) – Mandiraja, Kamis, 12/2/26 – Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Mandiraja dilibatkan sebagai tim penilai dalam kegiatan ujian penjaringan perangkat desa yang dilaksanakan hari ini, Kamis (12/2). Salah satu materi ujian praktik yang diujikan adalah pemulasaran jenazah, meliputi proses memandikan, mengkafani, hingga menyolati jenazah.

Sebanyak 13 peserta mengikuti ujian praktik tersebut dengan penuh keseriusan. Kegiatan berlangsung tertib dan lancar, disaksikan oleh panitia penjaringan serta tim penguji dari berbagai unsur.

Dalam pelaksanaan ujian praktik ini, terdapat tiga orang tim penilai, yaitu Feti Sulistiani sebagai Tim Penilai 1, Dian Setiadi sebagai Tim Penilai 2, dan Hendriyanto selaku Tim Penilai 3 dari KUA Mandiraja yang juga merupakan Penyuluh Agama Islam. Ketiganya melakukan penilaian secara objektif berdasarkan aspek ketepatan tata cara, kelengkapan rukun, bacaan doa, serta sikap dan keseriusan peserta dalam menjalankan praktik.

Hendriyanto menyampaikan bahwa materi praktik pemulasaran jenazah sangat penting bagi calon perangkat desa.

 “Pemulasaran jenazah adalah bagian dari fardhu kifayah yang harus dipahami dengan benar oleh masyarakat, termasuk perangkat desa. Kami menilai tidak hanya dari teknis pelaksanaan, tetapi juga dari pemahaman tata cara sesuai syariat Islam,” ujar Hendriyanto.

Ia menambahkan bahwa keterlibatan KUA dalam ujian ini merupakan bentuk sinergi antara lembaga keagamaan dan pemerintah desa dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusia.

Sementara itu, Ketua Panitia Penjaringan, Lukman, menjelaskan bahwa materi praktik pemulasaran jenazah dipilih karena dinilai relevan dengan tugas pelayanan sosial kemasyarakatan di desa.

 “Perangkat desa sering bersentuhan langsung dengan masyarakat dalam berbagai situasi, termasuk ketika ada warga yang meninggal dunia. Karena itu, kami ingin memastikan calon perangkat desa memiliki bekal pengetahuan dan keterampilan dasar dalam hal ini,” jelas Lukman.

Salah satu peserta ujian, Eling, mengaku bersyukur dapat mengikuti praktik tersebut meskipun merasa cukup tegang saat pelaksanaan.

 “Awalnya saya grogi, apalagi praktiknya langsung dari memandikan sampai menyolati. Tapi alhamdulillah, ini jadi pengalaman berharga dan menambah ilmu yang sangat bermanfaat untuk masyarakat,” ungkap Eling.

Dengan adanya materi praktik pemulasaran jenazah dalam ujian perangkat desa ini, diharapkan perangkat desa terpilih nantinya tidak hanya kompeten dalam administrasi pemerintahan, tetapi juga memiliki kepedulian dan kesiapan dalam pelayanan sosial keagamaan di tengah masyarakat.

(ds/m,azd)

Skip to content