KUA MANDIRAJA TERIMA KUNJUNGAN SISWA MAN 2 BANJARNEGARA

Banjarnegara (Humas) – KUA Kecamatan Mandiraja yang diwakili oleh Irfan Sulastono , Kepala KUA dan  Yani Itsnawati, Penyuluh Agama Islam Fungsional menerima kunjungan siswa dan guru pendamping MAN 2 Banjarnegara, Jum’at ( 06/ 09 ).

 Guru Pendamping, Kaffah Visa Alvionita , menyampaikan maksud dan tujuan kunjungan adalah untuk mengumpulkan data dan menggali materi tentang desa Somawangi  yang merupakan kampung moderasi beragama dan desa Sadar Kerukunan tahun 2024, dalam rangka lomba Pemilihan Inisiator Muda Moderasi Beragama tahun 2024, yang diselenggarakan Kementerian Agama Republik Indonesia, ‘’ Saya mohon bantuan Pak Irfan dan Bu Yani untuk membantu Citra Dewi Saeful dan Alya Rahman Putri yang akan mengikuti lomba,  mengenai data dan materi yang diperlukan mereka berdua ‘’ katanya.

Citra menanyakan mengapa desa Somawangi ditetapkan sebagai kampung moderasi beragama dan desa Sadar Kerukunan. Yani menjawab bahwa untuk ditetapkan sebagai kampung moderasi beragama ada  empat  indikator yang benar-benar terlihat dan terlaksana dalam kehidupan masyarakat. Keempat  ini yang dijadikan sebagai parameter pemahaman agama yang moderat, antara lain : komitmen kebangsaan serta seti a dan taat pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI ), toleransi , anti kekerasan  dan ramah terhadap budaya setempat. Dan Somawangi memenuhi keempat kriteria di atas. Somawangi yang merupakan sebuah desa dari Kecamatan Mandiraja yang mempunyai jumlah penduduk 9813 jiwa. Mereka menganut agama dan keyakinan yang berbeda yaitu agama Islam, Kristen, Budha dan Penghayat Kepercayaan KepadaTuhan Yang Maha Esa , ‘’ Somawangi merupakan gambaran Indonesia kecil, terdiri dari beragam agama dan keyakinan’’ ungkapnya.

Alya menanggapi, ‘’ Bagaimana kehidupan  kemasyarakatan mereka sehari-hari ?’’ucapnya.  Lebih lanjut Yani menjelaskan bahwa kelebihan dari desa  Somawangi  walaupun beragam agama dan aliran namun kehidupan masyarakat aman dan damai tidak pernah ada gesekan. Masyarakat hidup saling berdampingan hidup rukun, saling membantu tanpa memandang agama dan keyakinan.

Senada dengan Yani , Irfan  menyatakan bahwa  desa Somawangi yang masyarakatnya majemuk memeluk agama dan keyakinan yang berbeda namun dapat hidup berdampingan dan bekerja sama, ‘’ Kondisi yang indah ini sudah terjalin sejak dahulu, merupakan warisan dari pendahulu yang harus dirawat  dan dilestarikan , mudah-mudahan keharmonisan desa Somawangi ini akan terjaga selamanya ‘’ pungkasnya.(Yi/La)

Skip to content