Lanjutkan Penelitian Inovatif, Aisyamara dan Hana Kembangkan Solusi Hidrasi Tanah dan Pengolahan Limbah

Banjarnegara (Humas) – Dua siswi MTs Negeri 1 Banjarnegara, Aisyamara dan Hana, melanjutkan penelitian inovatif mereka di Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas) Banjarnegara pada Selasa (12/8). Penelitian ini mengangkat tema “Konservasi Air Menggunakan Biodegradable Hydrogel dari Eceng Gondok dan Kulit Kopi Banjarnegara Sebagai Solusi Hidrasi Tanah dan Pengolahan Limbah.”

Hydrogel biodegradable merupakan material berbasis polimer yang mampu menyerap dan menyimpan air dalam jumlah besar, kemudian melepaskannya secara perlahan. Dalam penelitian ini, Aisyamara dan Hana mengembangkan hydrogel ramah lingkungan dengan memanfaatkan limbah organik berupa kulit kopi dan tanaman eceng gondok—dua bahan yang melimpah di Banjarnegara namun seringkali belum termanfaatkan secara optimal.

Bimbingan penelitian dilakukan oleh Tri Widayati, guru pembimbing riset MTs Negeri 1 Banjarnegara, dengan dukungan teknis dari Bondan Fajar Wahyudi, perwakilan dari Instalasi Sarana Prasarana Kalibrasi dan Pemanfaatan Teknologi Tepat Guna Labkesmas Banjarnegara.

Tri Widayati menegaskan bahwa penelitian ini memiliki nilai strategis, baik untuk lingkungan maupun perekonomian lokal.

“Karya ini tidak hanya bertujuan untuk mengembangkan teknologi tepat guna, tetapi juga menjadi solusi nyata terhadap dua masalah sekaligus: limbah organik dan kebutuhan konservasi air. Saya bangga melihat semangat Aisyamara dan Hana yang tekun mengembangkan ide ini sejak tahap awal,” ujarnya.

Selama kegiatan di laboratorium, Aisyamara dan Hana tampak mengenakan jas laboratorium berwarna biru, sarung tangan lateks, dan masker untuk menjaga sterilitas dan keamanan kerja. Mereka melakukan serangkaian proses, mulai dari pencucian dan pengeringan bahan, penggilingan kulit kopi, hingga pencampuran bahan aktif dengan eceng gondok yang telah diolah.

Aisyamara menjelaskan bahwa pemilihan kulit kopi dan eceng gondok bukan tanpa alasan.

“Kulit kopi mengandung selulosa dan lignin yang bagus untuk membentuk struktur polimer hydrogel, sedangkan eceng gondok kaya akan serat alami yang dapat meningkatkan daya serap air. Kami ingin mengubah dua bahan yang sering dianggap limbah menjadi produk yang bermanfaat untuk pertanian dan lingkungan,” terangnya.

Hana menambahkan bahwa hydrogel ini berpotensi besar digunakan pada lahan pertanian yang rawan kekeringan.

“Hydrogel bisa membantu tanah tetap lembab lebih lama, sehingga kebutuhan irigasi berkurang. Selain itu, karena bahan bakunya organik, hydrogel ini dapat terurai di tanah tanpa meninggalkan residu berbahaya,” jelas Hana.

Bondan Fajar Wahyudi, yang memberikan dukungan teknis selama penelitian, mengapresiasi ketelitian dan kesungguhan kedua siswi ini.

“Mereka sudah memahami prosedur laboratorium dengan baik, mulai dari penentuan komposisi bahan hingga pengujian sifat hidrogel. Saya melihat potensi besar dari riset ini, apalagi kalau bisa diaplikasikan dalam skala lebih luas. Teknologi ini tidak hanya relevan untuk Banjarnegara, tapi juga daerah-daerah lain yang mengalami permasalahan serupa,” ungkap Bondan.

Penelitian ini tidak hanya fokus pada pembuatan produk, tetapi juga pada pengujian kinerja hydrogel, seperti kapasitas penyerapan air, waktu pelepasan air, dan biodegradabilitasnya. Hasil uji coba awal menunjukkan bahwa hydrogel dari campuran kulit kopi dan eceng gondok mampu menyerap air hingga beberapa ratus kali lipat dari berat keringnya, dan tetap efektif melepaskan air secara bertahap selama beberapa hari.

Tri Widayati berharap hasil penelitian ini dapat dipresentasikan di ajang lomba karya ilmiah remaja tingkat provinsi maupun nasional.

“Kami berencana mempublikasikan hasil riset ini agar dapat diakses oleh masyarakat luas, termasuk petani, pengelola lahan, dan instansi terkait. Dengan begitu, manfaatnya bisa langsung dirasakan,” katanya.

Aisyamara dan Hana pun menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung penelitian mereka. Keduanya berkomitmen untuk terus mengembangkan kualitas produk hingga siap diaplikasikan secara nyata di lapangan.

Dengan semangat inovasi, kolaborasi lintas disiplin, dan kepedulian terhadap lingkungan, riset ini menjadi bukti bahwa siswa madrasah pun mampu menghadirkan solusi kreatif bagi tantangan global. Banjarnegara, dengan segala potensi sumber daya alamnya, berpeluang menjadi pionir dalam pengembangan teknologi hydrogel ramah lingkungan berbasis limbah organik. (Lin/La)

Skip to content