Banjarnegara (Humas) – Program literasi MTs Negeri 1 Banjarnegara kembali menampilkan kreativitas siswa dalam tayangan Madtsansa Aksi Kreasi–Mendongeng yang dipublikasikan di media sosial madrasah https://youtu.be/03GorG-Yu8E pada Kamis (30/10). Dalam edisi kali ini, giliran Mourin Eveline Benita, siswi kelas 7B Unggulan Sastra dan Seni, yang tampil membawakan dongeng berjudul “Hujan dan Keinginan” karya Atqa Khairunnisa, siswi kelas 9B dari kelas unggulan yang sama.
Dengan suara lembut dan ekspresif, Mourin berhasil menghidupkan kisah yang sarat makna tersebut. Dongeng “Hujan dan Keinginan” menceritakan tokoh Wonhu yang belajar memahami bahwa tidak semua keinginan harus terwujud, dan bahwa di balik setiap halangan, selalu ada kebaikan yang tersembunyi. Pesan moral ini disampaikan dengan gaya bertutur yang sederhana, tetapi menyentuh.
Kepala MTs Negeri 1 Banjarnegara, H. Yatiman, mengungkapkan apresiasinya terhadap kreativitas para siswi yang terus berinovasi di bidang literasi dan seni.
“Program Madtsansa Aksi Kreasi–Mendongeng adalah salah satu bentuk nyata dari upaya madrasah menumbuhkan karakter dan kemampuan literasi siswa. Mourin dan Atqa menunjukkan bahwa anak-anak madrasah tidak hanya bisa menulis dan membaca, tetapi juga mengekspresikan nilai-nilai kehidupan melalui karya sastra,” ujar Yatiman.
Ia menambahkan bahwa kegiatan semacam ini juga menjadi media penting untuk membangun kepercayaan diri siswa sekaligus mengembangkan kecerdasan emosional.
Pembina kegiatan mendongeng, Linara, yang merupakan guru matematika di madrasah tersebut, menilai penampilan Mourin kali ini sudah cukup bagus untuk penampilan tanpa latihan yang intensif.
“Mourin mampu membacakan dongeng dengan ekspresi yang pas. Ia tidak sekadar membaca, tetapi benar-benar menghadirkan suasana hujan dan rasa haru dari kisah Wonhu. Mourin punya modal ke depan untuk berbagai ajang lomba mendongeng yang ada, tentu dengan latihan yang intensif” tutur Linara.
Ia juga berharap kegiatan mendongeng ini dapat menjadi wadah untuk menumbuhkan kecintaan siswa terhadap sastra dan budaya tutur.
Sementara itu, Mourin Eveline Benita mengaku sangat senang bisa dipercaya tampil dalam program tersebut.
“Awalnya saya agak gugup karena ini pertama kali membacakan dongeng karya kakak kelas sendiri. Tapi setelah latihan sebentar saya jadi lebih percaya diri. Cerita ini juga mengajarkan saya untuk lebih sabar dan bersyukur, jadi saya merasa punya kedekatan dengan tokohnya,” ujar Mourin dengan antusias.
Ia menambahkan bahwa pengalaman tampil di depan kamera menjadi tantangan tersendiri, namun juga memberi semangat untuk terus berlatih.
Penulis naskah, Atqa Khairunnisa, merasa bangga karyanya bisa diangkat dalam program madrasah tersebut.
“Saya menulis ‘Hujan dan Keinginan’ terinspirasi dari pengalaman pribadi ketika keinginan saya tidak selalu berjalan sesuai rencana. Saya ingin menyampaikan pesan bahwa kadang hal-hal yang tampak mengecewakan sebenarnya melindungi kita dari sesuatu yang buruk,” jelas Atqa.
Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada Mourin yang telah membacakan dongengnya dengan penghayatan penuh.
“Mourin membawakannya dengan sangat indah. Saya merasa pesan yang saya tulis benar-benar tersampaikan kepada penonton,” tambahnya.
Program Madtsansa Aksi Kreasi–Mendongeng sendiri merupakan bagian dari gerakan literasi Madtsansa yang secara rutin menampilkan karya-karya siswa baik dalam bentuk tulisan, puisi, maupun dongeng. Kegiatan ini tidak hanya diunggah di media sosial sekolah, tetapi juga menjadi bagian dari dokumentasi literasi madrasah yang diharapkan dapat menginspirasi banyak pihak.
Sebagai penutup, Kepala Madrasah H. Yatiman kembali menegaskan komitmen madrasah dalam mendukung kegiatan literasi.
“Madrasah terus mendorong siswa untuk aktif berkarya. Dengan program seperti ini, kita bisa melihat bahwa kreativitas tumbuh dari semangat belajar dan lingkungan yang mendukung,” pungkasnya.
Melalui kisah “Hujan dan Keinginan”, Mourin dan Atqa berhasil menghadirkan nilai moral tentang kesabaran, rasa syukur, dan makna kebaikan di balik setiap ujian kehidupan. Penampilan mereka menjadi bukti bahwa sastra di Madtsansa bukan hanya tentang menulis, tetapi juga tentang menumbuhkan kepekaan dan kemanusiaan. (Fy/La)







