Madtsansa Mendongeng Kembali Tayang, Dheliza Bawakan Dongeng “Timmy dan Sahabat Tak Terduga”

Banjarnegara (Humas) – Program literasi kreatif Madtsansa-Madtsansa Mendongeng kembali hadir dan dipublikasikan pada Rabu (5/11) di seluruh media sosial resmi MTs Negeri 1 Banjarnegara, mulai dari YouTube, Instagram, hingga TikTok. Pada episode kali ini, giliran Dheliza Dwi Wulandari, siswa kelas 7B, yang tampil sebagai penutur dongeng. Ia membawakan cerita berjudul Timmy dan Sahabat Tak Terduga, sebuah karya orisinal milik Agyfio Dian Almahri Azhara, siswa kelas 9B dari kelas unggulan Sastra dan Seni.

Program Madtsansa Mendongeng merupakan salah satu kegiatan unggulan literasi yang dikembangkan MTs Negeri 1 Banjarnegara sebagai sarana penguatan budaya membaca, mengapresiasi karya original siswa, sekaligus membangun kepercayaan diri peserta didik melalui seni bertutur. Setiap episodenya menampilkan karya dongeng ciptaan siswa Madtsansa yang kemudian dibawakan oleh narator berbeda lintas jenjang kelas.

Risky Arbangi Nopi, guru Bahasa Indonesia kelas 9 sekaligus salah satu pembina kegiatan literasi, menyampaikan apresiasinya terhadap keberlanjutan program ini.

“Madtsansa Mendongeng bukan sekadar program publikasi, melainkan proses pembelajaran nyata. Siswa bukan hanya diminta membaca, tetapi juga mencipta, mengolah bahasa, menyunting naskah, hingga mempresentasikannya secara lisan. Ini bentuk literasi tingkat lanjut yang tidak semua sekolah mampu lakukan secara konsisten,” ujarnya.

Risky juga menegaskan bahwa karya Agyfio merupakan salah satu contoh cerita yang mengandung nilai moral kuat dan relevan bagi pembaca seusianya. Ia berharap semakin banyak siswa yang terinspirasi untuk menulis cerita orisinal.

“Ketika siswa bisa berkarya dan karyanya diapresiasi, maka budaya literasi benar-benar hidup. Saya bangga melihat siswa seperti Agyfio dan Dheliza yang berani tampil, baik lewat tulisan maupun penuturan.”

Dalam penuturannya, Dheliza memilih gaya mendongeng duduk tenang sembari memperlihatkan ekspresi yang selaras dengan adegan cerita. Ia mengaku sempat gugup sebelum pengambilan video, namun rasa bangganya mengalahkan rasa tegang tersebut.

“Awalnya saya deg-degan, apalagi ini pertama kali saya tampil sebagai penutur. Tapi saya senang karena bisa membawakan cerita kakak kelas sendiri. Dongengnya bagus dan banyak pesan persahabatannya,” ujar Dheliza.

Ia juga menambahkan bahwa proses latihan membantunya belajar artikulasi dan intonasi saat membaca teks cerita.

“Ternyata mendongeng itu tidak mudah. Kita harus paham karakter tokoh, kapan harus sedih, marah, atau bahagia. Tapi setelah latihan, saya merasa lebih percaya diri.”

Agyfio Dian Almahhri, sang penulis cerita, mengungkapkan bahwa ide dongengnya berawal dari pengamatan sederhana tentang perbedaan sifat manusia. Tokoh Aiko yang sombong, Timmy yang sabar, dan Jerry yang setia merupakan representasi nilai karakter yang ia ingin sampaikan.

“Saya ingin menunjukkan bahwa persahabatan itu tidak selalu dimulai dari hal baik. Kadang dari konflik dulu, kemudian tumbuh saling mengerti. Itu sebabnya judulnya Timmy dan Sahabat Tak Terduga,” jelasnya.

Ia juga merasa bangga ceritanya dipilih untuk dipentaskan dalam program Madtsansa Mendongeng.

 “Senang rasanya karya saya tidak hanya dibaca sendiri, tapi bisa dinikmati banyak orang. Semoga anak-anak lain juga berani menulis. Kita semua bisa berkarya.”

Fatih, siswa kelas 8B yang ikut menyaksikan pemutaran video di kelas, mengaku antusias mengikuti program ini.

“Biasanya kalau dengar kata dongeng itu kayak untuk anak kecil. Tapi ternyata kalau dibawakan dengan ekspresif, seru juga ditonton. Ceritanya ringan tapi kena. Terutama bagian tentang saling menolong,” ungkapnya.

Menurutnya, konten seperti ini membuat siswa lebih mudah menyukai kegiatan membaca dan mendengarkan cerita dibanding sekadar tugas membaca buku.

Dengan terus tayangnya Madtsansa Mendongeng setiap pekan, MTs Negeri 1 Banjarnegara membuktikan komitmennya dalam mengembangkan literasi berbasis karya nyata siswa. Program ini bukan hanya menanamkan kecintaan terhadap bacaan, melainkan juga melatih keberanian tampil, kreativitas, dan rasa bangga pada karya sendiri.

Publikasi episode Dheliza hari ini menandai semakin banyaknya siswa yang terlibat sebagai penulis maupun pendongeng, serta membuka jalan bagi munculnya karya-karya baru dari generasi literasi Madtsansa berikutnya. (Fy/La)

Skip to content