Memahami Peran Seorang Guru Dalam Pembelajaran Klasikal

TIDAK lama lagi semua madrasah/sekolah akan mengakhiri program pembelajaran dengan serangkaian kegiatan yang disebut Penilaian Akhir Tahun (PAT). Ini sebagai pertanda bahwa tahun ajaran baru 2021/ 2022 akan segera hadir. Rupa-rupanya semua berharap akan terjadi pembelajaran luring untuk menggantikan pembelajaran daring yang terpaksa dilakukan. Tahun ajaran baru, harapan baru.

Setelah menjalani pembelajaran daring sekitar satu tahun, pembelajaran secara luring atau tatap muka dengan jaringan langsung dirasa memiliki makna yang luar biasa. Pasalnya, pembelajaran luring yang boleh dikatakan sebagai model pembelajaran konvesional, dimana guru menghadapi siswa secara klasikal. Dalam pelayanan klasikal inilah yang dirasa memiliki makna yang luar biasa. Terjadi interaksi langsung antara guru dengan siswa dan interaksi langsung antarsiswa. Di sini terjadi kompetisi antarsiswa dan siswa mengetahui secara langsung kemampuan temannya.

Pembelajaran klasikal akan membawa hasil yang lebih baik, jika guru mampu melayani siswa secara individual. Guru melayani individu dalam pembelajaran klasikal.

Siswa sebagai individu adalah unik, masing-masing memiliki kemampuan dan karakter yang berbeda. Sudjana mengatakan bahwa ada enam perbedaan individual yang dimiliki siswa, yaitu perkembangan intelektual, kemampuan berbahasa, latar belakang pengalaman, gaya belajar, bakat dan minat serta kepribadian.

Perbedaan tersebut harus diperhatikan oleh guru dalam melaksanakan dan mengelola pembelajaran. Guru tidak hanya memperlakukan siswa secara umum namun harus mampu memberikan perlakuan khusus yang tepat pada masing-masing individ. Terutama yang memiliki karakter yang sangat berbeda dengan siswa lainnya. Misalnya dalam sebuah kelompok terdapat satu siswa yang mendapatkan nilai paling rendah dan kurang mampu mengikuti pembelajaran. Guru perlu mencari tahu penyebabnya untuk mengambil keputusan perlakuan sehingga tidak tertinggal dari teman yang lainnya.

Dalam pembelajaran, kewajiban guru adalah melayani kebutuhan siswa secara personal, sehingga tidak ada siswa yang tenggelam dalam kelas yang besar. Tidak ada siswa yang tidak terdekteksi kelebihan dan kekurangannya. Tidak ada siswa yang kurang memperoleh kesempataan belajar. Semua siswa bisa berkembang dengan baik.

Menururt Dimyati dan Mudjiono, dalam pembelajaran klasikal terjadi dua kegiatan sekaligus, yaitu pengelolaan kelas dan pengelolaan pembelajaran. Sehingga tidak hanya guru saja yang aktif, namun peran aktif siswa sangat diperlukan agar pembelajaran klasikal lebih efektif.

Dalam Permen Diknas Nomor 41 tahun 2007 dinyatakan tugas guru dalam pengelolaan kelas diantaranya adalah mengatur tempat duduk siswa sesuai karakteristik peserta didik, mata pelajaran serta aktifitas yang akan dilakukan. Volume dan intonasi suara guru dapat didengar baik oleh peserta didik. Guru menyesuaikan materi pelajaran dengan kecepatan dan kemampuan belajar peserta didik. Guru menghargai pendapat peserta didik. Tugas guru adalah menggali, menemukan, dan mengasah bakat dan kemampuan terbaik siswa.

Terkait tugas guru dalam mengelola pembelajaran tidak terlepas dengan pemilihan strategi dan model pembelajaran yang akan diterapkan di kelas klasikal agar bisa melayani siswa secara individu. Ada banyak pilihan strategi pembelajaran yang bisa untuk melayani perbedaan individu bisa strategi ekspositori (SPE), inkuiri (SPI), kooperatif (SPK), pembelajaran berbasis masalah (SPBM), peningkatan kemampuan berpikir, atau pembelajaran kontekstual (CTL).

Pemilihan strategi pembelajaran yang tepat akan memberikan kontribusi bagi perkembangan siswa secara individu.

Dalam kegiatan pembelajaran klasikal, guru bertanggung jawab mengelola kelas dengan tepat agar kondisi belajar optimal. Guru dalam mengelola pembelajaran harus dibarengi dengan pemilihan strategi pembelajaran yang tepat. Itulah peran dan tugas guru dalam pembelajaran klasikal yang tetap bisa melayani sisa secara individu.

 

Oleh:

Dra. Sarwosih, S.Pd / Guru Bahasa Indonesia MAN 1 Banjarnegara