Banjarnegara (Humas) – Siang hari di Desa Pagentan terasa lebih menyejukkan pada Selasa (5/5/2026). Bertempat di Majelis Taklim (MT) Miftahul Jannah, sebanyak 30 jamaah berkumpul dengan antusias untuk mengikuti bimbingan penyuluhan agama yang dibawakan oleh Penyuluh Agama Islam fungsional KUA Pagentan, Sutrisno.
Mengangkat tema sentral “Menjadi Insan Pemaaf,” kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat aspek psikologi religius masyarakat di tengah dinamika sosial yang kian kompleks. Sutrisno menekankan bahwa memaafkan bukanlah tanda kelemahan, melainkan refleksi dari kekuatan iman dan kelapangan hati yang luar biasa.
Dalam penyampaiannya yang lugas namun menyentuh, Sutrisno menjelaskan bahwa sifat pemaaf adalah atribut penduduk surga yang telah ditegaskan dalam Al-Qur’an. Beliau mengajak para jamaah untuk tidak memelihara dendam yang hanya akan menjadi beban batin dalam beribadah.
“Menjadi pemaaf adalah jalan pintas menuju ketenangan batin. Ketika kita melepaskan kesalahan orang lain, sebenarnya kita sedang membebaskan diri kita sendiri dari belenggu kebencian yang melelahkan. Allah Swt sangat mencintai hamba-Nya yang mampu menahan amarah dan memberi maaf bahkan saat ia memiliki kemampuan untuk membalas,” ujar Sutrisno di hadapan para jamaah.
Kegiatan ini mendapat sambutan hangat dari pengurus dan anggota Majelis Taklim. Materi yang disampaikan dinilai sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari, terutama dalam menjaga kerukunan antarwarga dan keharmonisan rumah tangga.
Suyono, selaku Ketua Majelis Taklim Miftahul Jannah, mengungkapkan rasa terima kasihnya atas pendampingan rutin yang dilakukan oleh penyuluh dari KUA Pagentan. Menurutnya, siraman rohani seperti ini sangat dibutuhkan untuk menjaga ritme spiritualitas ibu-ibu di desanya.
“Kami sangat bersyukur Pak Sutrisno hadir memberikan pencerahan hari ini. Tema memaafkan ini benar-benar menyentuh hati kami. Terkadang hal-hal kecil di lingkungan bisa jadi ganjalan, tapi dengan bimbingan ini, kami diingatkan kembali untuk mengedepankan kasih sayang dan saling memaklumi. Semoga kami bisa mempraktikkannya dalam kehidupan bermasyarakat,” ungkap Suyono penuh harap.
Pertemuan yang berlangsung khidmat tersebut diakhiri dengan diskusi interaktif dan doa bersama. Kehadiran penyuluh agama di tengah masyarakat seperti ini merupakan wujud nyata komitmen Kantor Urusan Agama (KUA) Pagentan dalam memberikan pelayanan edukasi keagamaan yang inklusif dan solutif.
Melalui kegiatan bimbingan penyuluhan yang konsisten, diharapkan masyarakat Desa Pagentan tidak hanya cerdas secara ritual, tetapi juga memiliki kecerdasan emosional yang tinggi dengan menjadikan sifat pemaaf sebagai fondasi kerukunan umat.
(3S/azd)







