Menata Luka dengan Doa: Pos Keagamaan Dampingi Pengungsi Situkung Memasuki Tujuh Hari Bencana

Banjarnegara (Humas) – Sabtu (22/11) suasana syahdu menyelimuti pengungsian Gedung IPHI Pandanarum saat Pos Keagamaan kembali menggelar doa bersama menjelang memasuki tujuh hari pascabencana longsor Situkung, Desa Pandanarum. Kegiatan ini menjadi bagian penting dari upaya pemulihan spiritual para pengungsi yang selama sepekan terakhir masih hidup dalam tekanan dan kesedihan akibat musibah besar tersebut.

Doa bersama dipimpin langsung oleh Abdurrahim yaitu salah satu petugas Pos Keagamaan yang sejak hari pertama bencana turun mendampingi para penyintas. Dengan suara lantang namun penuh kelembutan, Abdurrahim memimpin rangkaian dzikir, tahlil, dan doa untuk para korban meninggal dunia. Para pengungsi mengikuti dengan penuh kekhusyukan, duduk berbaris rapi di dalam gedung sambil sesekali menahan haru. Beberapa ibu tampak mengusap air mata, mengingat anggota keluarga mereka yang masih belum ditemukan maupun yang sudah dimakamkan.

Kegiatan ini bukan hanya ritual simbolis, tetapi menjadi ruang penguatan hati bagi warga yang terdampak. Dalam kondisi mereka yang masih belum stabil, doa bersama menghadirkan ketenangan dan rasa kebersamaan. Para pengungsi merasa bahwa mereka tidak sendiri: ada pemerintah, relawan, dan masyarakat luas yang terus mendampingi mereka menjalani hari-hari sulit ini.

Pos Keagamaan juga memanfaatkan momentum tersebut untuk memberikan tausiyah singkat. Abdurrahim mengingatkan bahwa setiap musibah pasti membawa hikmah meski sulit dirasakan di awal. Ia mengajak seluruh pengungsi untuk tetap sabar, tawakal, dan saling menguatkan satu sama lain. “Kita sedang diuji, tetapi yakinlah Allah tidak meninggalkan kita. Musibah ini justru mempererat ukhuwah dan kepedulian di antara kita semua,” ujarnya.

Selain memberikan penguatan rohani, kegiatan ini juga membantu menjaga kesehatan mental para pengungsi, terutama anak-anak dan lansia. Suasana yang penuh ketenangan membuat mereka merasa lebih aman dan terayomi meski tinggal sementara di tempat pengungsian. Beberapa relawan kesehatan yang hadir juga memberikan pendampingan emosional kepada warga yang terlihat masih mengalami trauma.

Dengan kebersamaan, dukungan emosional, dan kekuatan spiritual seperti ini, diharapkan para pengungsi mampu bangkit dan menjalani hari-hari ke depan dengan lebih tegar, serta selalu memohon perlindungan agar bencana serupa tidak terjadi kembali. 

(ev/ azd)

Skip to content