Banjarnegara (Humas) – Mengabdi tanpa pamrih demi syiar Islam, itulah semangat yang senantiasa menyala dalam diri Suprihatin, seorang Penyuluh Agama Islam Kecamatan Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara. Perempuan tangguh ini kembali menunjukkan dedikasinya saat ia menempuh perjalanan cukup berat menuju salah satu dusun paling terpencil di Desa Pasegeran yaitu Dusun Jumbleng. (28/7)
Bagi banyak orang, perjalanan menuju Dusun Jumbleng mungkin cukup untuk membuat mereka mengurungkan niat. Jalan sempit yang licin, tanjakan terjal, dan akses kendaraan yang terbatas menjadikan dusun ini sulit dijangkau, apalagi di musim penghujan. Namun tidak bagi Suprihatin, perjalanan yang berat adalah bagian dari perjuangan dakwah yang harus dilalui dengan keikhlasan dan kesabaran.
Selepas menyelesaikan tugas dinasnya di Kantor Urusan Agama (KUA) Pandanarum, sekitar pukul 16.00 WIB, Sebulan sekali ia langsung melanjutkan perjalanan ke lokasi. Dengan semangat yang tak surut. Ia tiba di Dusun Jumbleng untuk menghadiri dan mengisi pengajian rutin Majelis Taklim Khairunnisa yang digelar setiap hari sebualan sekali yang mengundang narasumber dari KUA.
Kehadirannya disambut penuh kehangatan oleh para ibu-ibu anggota Majelis Taklim yang sudah menantikan kajian tersebut. Dalam kesempatan itu, Suprihatin menyampaikan materi bertema “Pertolongan Allah Sangatlah Dekat”. Ia mengajak para jemaah untuk tidak putus asa dalam menghadapi ujian hidup, karena pertolongan Allah selalu datang di saat yang tepat, asalkan manusia bersabar dan tetap bergantung pada-Nya.

“Kadang kita merasa sendiri, merasa doa-doa kita belum dijawab. Tapi sesungguhnya Allah lebih dekat daripada yang kita sangka. Asal hati kita tetap yakin, pertolongan itu pasti datang,” ujar Suprihatin dalam ceramahnya.
Ia juga menekankan pentingnya terus belajar dan memperdalam ilmu agama meskipun tinggal di daerah pelosok. Menurutnya, keterbatasan akses tidak boleh menjadi penghalang bagi siapa pun untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menambah pengetahuan keislaman.
“Menjadi penyuluh agama artinya harus siap kapan saja dan di mana saja dibutuhkan. Kita hadir tidak hanya sebagai pemberi materi, tapi juga sebagai pendengar, penyemangat, dan pendamping spiritual masyarakat,” tambahnya.
Para jamaah merasa terharu atas dedikasi Suprihatin yang tak kenal lelah. Beberapa di antaranya bahkan menyatakan bahwa keberadaan penyuluh seperti Suprihatin sangat berarti bagi mereka yang jarang mendapatkan akses pembinaan keagamaan secara langsung.
Dengan semangat yang terus membara, Suprihatin berharap kegiatan seperti ini bisa terus berjalan dan menjangkau lebih banyak dusun di wilayah Pandanarum. Ia percaya bahwa membina umat dari dusun ke dusun, meski penuh tantangan, adalah bagian dari tugas mulia untuk menciptakan masyarakat yang berakhlak dan religius. (ev/azd)







