Mengajar dengan Ilmu, Merawat dengan Cinta: Potret Penerapan KBC di MIFABARA

Banjarnegara – Menjadi seorang guru bukan hanya tentang menyampaikan materi pembelajaran di dalam kelas. Lebih dari itu, guru hadir sebagai sosok yang mendampingi, melindungi, dan memberikan perhatian kepada murid dalam berbagai situasi. Hal tersebut terlihat dalam keseharian guru MIFABARA ketika dengan penuh ketulusan membantu merawat luka yang dialami salah seorang murid.(29/8)

Dengan penuh perhatian, guru segera memberikan pertolongan sederhana kepada murid yang mengalami luka. Tangan yang merawat, tutur kata yang menenangkan, serta sikap penuh kesabaran menjadi bentuk kepedulian yang mungkin terlihat sederhana, tetapi memiliki makna besar bagi seorang anak.

Momen tersebut menjadi potret nyata penerapan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) di MIFABARA. KBC tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan pembelajaran dan penyampaian nilai-nilai karakter, tetapi juga melalui tindakan nyata yang menunjukkan kasih sayang, kepedulian, dan penghargaan terhadap setiap murid.

Bagi seorang murid, luka yang dialami mungkin hanya luka kecil. Namun, perhatian yang diberikan guru dapat menghadirkan rasa aman dan nyaman. Dari pengalaman sederhana tersebut, anak belajar bahwa madrasah bukan sekadar tempat untuk belajar, tetapi juga ruang untuk tumbuh dalam suasana yang penuh kasih dan kepedulian.

Kepala MIFABARA, Durotun Nafisah,  terus mendorong para guru untuk menghadirkan pendidikan yang menyentuh hati. Menurutnya, guru memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan madrasah yang ramah, aman, dan penuh cinta.

“Guru tidak hanya bertugas mengajar. Guru juga harus mampu menjadi sosok yang peduli terhadap kondisi dan kebutuhan anak. Hal-hal sederhana seperti membantu merawat ketika murid terluka merupakan bagian dari pendidikan dengan cinta,” ungkapnya.

Implementasi KBC sejatinya dapat hadir dalam berbagai bentuk. Senyum guru, sapaan hangat, kesediaan mendengarkan cerita murid, membantu ketika mengalami kesulitan, hingga memberikan pertolongan saat terluka, semuanya menjadi bagian dari proses pendidikan yang bermakna.

Ketulusan guru dalam merawat luka tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak selalu hadir melalui kata-kata dan buku pelajaran. Terkadang, pendidikan justru tumbuh melalui sebuah tindakan kecil yang dilakukan dengan hati.

Mengajar dengan ilmu, mendidik dengan keteladanan, dan merawat setiap anak dengan cinta. Karena ketika guru menghadirkan cinta dalam setiap tindakannya, madrasah bukan hanya mencetak anak yang cerdas, tetapi juga generasi yang tumbuh dengan hati yang peduli dan penuh kasih.(nas)