Mengapa Memaafkan Itu Sulit? Simak Penjelasan Penyuluh KUA Pagentan di Majelis Taklim Nasyiatul Aisyiyah Bulu

Banjarnegara (Humas) – Suasana khidmat menyelimuti kediaman Ibu Fitri di Dusun Bulu, Desa Pagentan, Kecamatan Pagentan, pada Rabu siang (15/4/2026). Sebanyak 27 jamaah Majelis Taklim (MT) Nasyiatul Aisyiyah Ranting Bulu berkumpul untuk mengikuti bimbingan penyuluhan agama yang dibawakan oleh Penyuluh Agama Islam KUA Pagentan, M. Syaiful Abidin.

Mengangkat tema yang cukup menyentuh sanubari, “Tamparan Lembut dari Surah An-Nur Ayat 22: Mengapa Memaafkan Itu Sulit?”, Syaiful mengajak para jamaah membedah psikologi spiritual di balik sikap memaafkan. Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa ayat ini merupakan teguran indah dari Allah SWT kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq yang sempat bersumpah tidak akan memberi bantuan lagi kepada kerabatnya yang terlibat dalam fitnah terhadap Ummul Mukminin Aisyah RA.

M. Syaiful Abidin menekankan bahwa memaafkan bukan sekadar melupakan kesalahan orang lain, melainkan sebuah bentuk ketaatan tertinggi untuk meraih ampunan Allah.

“Seringkali kita merasa berat memaafkan karena ego kita merasa terluka. Namun, Surah An-Nur ayat 22 memberikan ‘tamparan lembut’ bagi kita semua: ‘Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?’. Jika kita mengharap ampunan Tuhan yang Maha Luas, maka sudah sepatutnya kita melapangkan dada bagi sesama manusia,” ujar Syaiful di hadapan para jamaah.

Ia menambahkan bahwa menahan amarah dan dendam ibarat menggenggam bara api yang justru membakar diri sendiri. Dengan memaafkan, seorang hamba sebenarnya sedang membebaskan dirinya dari belenggu masa lalu.

Kegiatan rutin ini mendapat sambutan hangat dari pengurus MT Nasyiatul Aisyiyah. Ketua MT Nasyiatul Aisyiyah Ranting Bulu Pagentan, Khusnul Khotimah, menyampaikan bahwa materi ini sangat relevan dengan dinamika kehidupan bertetangga dan berkeluarga.

“Materi hari ini sangat menyentuh sisi kemanusiaan kami. Kami belajar bahwa memaafkan memang sulit, tapi balasan yang dijanjikan Allah jauh lebih besar dari rasa sakit yang kita alami. Kami berharap kehadiran penyuluh dari KUA seperti Pak Syaiful bisa terus konsisten memberikan pencerahan yang menyejukkan seperti ini,” ungkap Khusnul Khotimah.

Acara yang berlangsung selama dua jam tersebut diakhiri dengan sesi tanya jawab interaktif dan doa bersama. Kehadiran 27 jamaah yang memenuhi ruang pertemuan menunjukkan antusiasme tinggi warga Desa Bulu dalam menimba ilmu agama guna mempererat tali silaturahmi antarwarga di wilayah Pagentan. 

(msa/azd)

Skip to content