Mengukur Ketulusan Niat: KUA Pagentan Soroti Dampak Psikologis “Basa-Basi” Palsu pada Hubungan Sosial

Banjarnegara (Humas) – Sebuah kebiasaan sosial yang mengakar kuat di masyarakat, yaitu menawarkan bantuan atau barang berharga sebagai bentuk “basa-basi” atau sekadar formalitas, kini menjadi subjek perhatian serius. Praktik yang sering dianggap ringan ini, jika tidak dibarengi dengan ketulusan niat, ternyata dapat menimbulkan keretakan psikologis dan interpersonal.

Isu krusial ini diangkat dalam sebuah Bimbingan Penyuluhan Keagamaan dan Etika Sosial yang diselenggarakan oleh Kelompok Bermain (KB) Pertiwi Plumbungan pada Jumat (12/12/2025). Acara yang berlangsung di Gedung KB Pertiwi Plumbungan ini dihadiri oleh 29 wali siswa yang antusias untuk memahami nuansa di balik interaksi sosial sehari-hari mereka.

Narasumber utama, M. Syaiful Abidin, seorang Penyuluh Agama Islam dari Kantor Urusan Agama (KUA) Pagentan, memimpin sesi dengan tema provokatif: “Hati-Hati Jika Berbasa-Basi: Antara Ketulusan dan Formalitas.” Syaiful secara tajam menganalisis perbedaan mendasar antara interaksi yang tulus yang memperkuat ikatan sosial dan tindakan formalitas kosong yang justru merusak.

Menurut Syaiful, praktik basa-basi yang tidak didukung oleh niat memberi yang murni adalah “kebiasaan berbahaya” yang membawa dampak negatif serius, terutama berupa rasa kekecewaan, baik bagi pemberi maupun penerima. Dalam ranah psikologi interpersonal, tawaran tanpa ketulusan adalah bentuk disparitas kognitif, perbedaan antara apa yang dikatakan dan apa yang dirasakan, yang secara tidak sadar dapat dirasakan oleh orang lain, menciptakan ketidakpercayaan.

“Ketika kita menawarkan sesuatu, tujuannya seharusnya adalah ingin berbagi, bukan sekadar memenuhi etika sosial,” tegas Syaiful Abidin. “Jika tawaran kita diterima, dan kita justru merasa kecewa atau terbebani, itu adalah indikator paling jelas bahwa tawaran kita sejak awal hanya basa-basi, bukan ketulusan.”

Ia menekankan bahwa integritas personal seseorang sangat ditentukan oleh kesesuaian antara perkataan dan niat. Basa-basi kosong, bahkan dalam hal-hal sepele seperti menawarkan hidangan atau minuman, berpotensi merusak fondasi hubungan silaturahmi dan etika bertetangga. Kekecewaan yang muncul saat basa-basi diterima adalah harga yang harus dibayar atas ketidakjujuran niat, meruntuhkan nilai dari janji dan perkataan.

Kepala KB Pertiwi Plumbungan, Dalimin, menyampaikan apresiasinya, melihat materi ini sebagai pengingat yang sangat berharga dalam konteks kehidupan bermasyarakat kontemporer. “Kami sering terjebak dalam basa-basi hanya untuk ‘menjaga muka’ tanpa menyadari bahwa kejujuran niat itulah yang seharusnya kita jaga,” ujar Dalimin.

Kegiatan ini, ditutup dengan sesi tanya jawab yang hidup di mana para peserta berbagi pengalaman mereka, diharapkan mampu menanamkan budaya interaksi sosial yang lebih jujur dan bertanggung jawab. Tujuannya adalah memastikan bahwa setiap perkataan dan tawaran di lingkungan KB Pertiwi Plumbungan selalu didasari oleh ketulusan, bukan sekadar formalitas yang rapuh. 

(msa/ azd)

Skip to content