Banjarnegara (Humas) – Suasana khidmat dan penuh antusiasme menyelimuti serambi Majelis Taklim As-Sholihah, Desa Pagentan, Kecamatan Pagentan pada Selasa (19/5/2026). Sebanyak 50 jemaah ibu-ibu berkumpul dengan penuh semangat untuk mengikuti kegiatan bimbingan dan penyuluhan keagamaan yang digelar oleh Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Pagentan.
Hadir sebagai narasumber utama, Penyuluh Agama Islam Fungsional KUA Pagentan, Sutrisno, yang membawakan tema sangat krusial menjelang pergantian bulan hijriah, yakni “Keutamaan Bulan Zulhijah dan Amalan Utama di Dalamnya”.
Dalam paparannya, Sutrisno menekankan bahwa sepuluh hari pertama di bulan Zulhijah merupakan momen emas yang tidak boleh dilewatkan begitu saja oleh umat Muslim. Ia menjelaskan bahwa pahala amal saleh yang dilakukan pada hari-hari tersebut dilipatgandakan oleh Allah Swt, bahkan menandingi pahala jihad fi sabilillah.
“Bulan Zulhijah bukan sekadar tentang ibadah haji dan penyembelihan hewan kurban. Sepuluh hari pertama bulan ini adalah waktu yang paling dicintai Allah Swt untuk kita memperbanyak amalan. Mulai dari puasa sunah, khususnya puasa Arafah, memperbanyak zikir, sedekah, hingga memperbaiki kualitas salat kita. Jangan sampai momentum emas setahun sekali ini lewat tanpa membekas di jiwa kita,” ujar Sutrisno di hadapan puluhan jemaah.
Sutrisno juga mengajak para jemaah untuk menyambut bulan mulia ini dengan hati yang bersih (tazkiyatun nafs) serta meningkatkan kepedulian sosial melalui ibadah kurban bagi yang mampu.
Kegiatan penyuluhan ini mendapat apresiasi yang luar biasa dari pengurus maupun jemaah Majelis Taklim As-Sholihah. Ketua Majelis Taklim As-Sholihah, Hj. Isyati, mengungkapkan rasa syukur dan terima kasihnya atas kehadiran penyuluh dari KUA Pagentan yang secara konsisten memberikan bimbingan spiritual kepada masyarakat.
“Alhamdulillah, materi yang disampaikan oleh Pak Sutrisno hari ini sangat menyentuh dan membuka mata kami semua. Kami menjadi lebih paham dan termotivasi untuk mengejar berkah di bulan Zulhijah nanti. Kehadiran penyuluh agama seperti ini sangat kami butuhkan agar jemaah kami selalu mendapatkan ilmu yang segar, lurus, dan menyejukkan,” tutur Hj. Isyati dengan wajah sumringah.
Acara yang berlangsung selama dua jam tersebut berjalan interaktif. Hal ini terlihat dari banyaknya jemaah yang aktif bertanya pada sesi diskusi, mulai dari fikih seputar kurban hingga tata cara puasa sunah Zulhijah.
Melalui bimbingan dan penyuluhan yang masif ini, KUA Pagentan berharap kesadaran religius masyarakat pedesaan semakin meningkat, sekaligus memperkokoh ukhuwah islamiyah di lingkungan Kecamatan Pagentan. Kegiatan ditutup dengan doa bersama yang dipimpin langsung oleh Sutrisno, memohon keberkahan dan kedamaian untuk seluruh warga Desa Pagentan.
(3S/azd)







