Banjarnegara (Humas) – Surat An-Nahl ayat 90 merupakan salah satu ayat dalam Al-Qur’an yang paling sering didengar umat Islam, karena selalu dibaca oleh khatib di akhir khutbah Jumat. Namun, sejauh mana makna mendalam di baliknya telah diresapi dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari?
Pertanyaan mendasar inilah yang mendasari Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Banjarnegara, Ani Musyarofah, saat menggelar kajian tafsir mendalam di hadapan jamaah majelis taklim Muslimat Desa Sokayasa pada hari Selasa sore (2/6). Mengangkat tema “Menyelami Makna Surat An-Nahl Ayat 90,” kajian ini berhasil membuka cakrawala berpikir jamaah tentang fondasi moral seorang Muslim.
“Ayat universal ini mengandung cetak biru (blueprint) kehidupan yang ringkas namun padat, yaitu tentang tiga perintah dan tiga larangan Allah SWT,” ujar penyuluh.
“Allah memerintahkan kita untuk berlaku adil, berbuat kebajikan (ihsan), dan memberi bantuan kepada kerabat terdekat. Di saat yang sama, Allah melarang keras kita melakukan perbuatan keji (fahsya), kemungkaran, dan permusuhan,” tambahnya dengan lugas.
Penyuluh Agama KUA Banjarnegara tersebut menekankan bahwa menegakkan keadilan dan berbuat ihsan tidak boleh tebang pilih, melainkan harus diterapkan mulai dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga dan tetangga. Ia mengingatkan bahwa menjauhi kemungkaran dan permusuhan adalah kunci utama untuk menciptakan ketenteraman sosial di tengah masyarakat Banjarnegara yang majemuk.
Kajian berlangsung interaktif dan penuh antusiasme. Banyak jamaah yang mengaku baru menyadari betapa dahsyatnya kandungan ayat yang selama ini rutin mereka dengar setiap pekan tersebut.
Melalui kegiatan pembinaan rohani ini, KUA Banjarnegara berharap pesan-pesan mulia dalam Surat An-Nahl ayat 90 tidak lagi sekadar menjadi rukun khutbah yang berlalu begitu saja, melainkan menjelma menjadi kompas moral dan perilaku nyata demi terwujudnya masyarakat yang harmonis dan berakhlak karimah.







