Meski Peserta Terbatas, Semangat Dakwah Efatun Vaizah Tetap Menyala di Majelis Nasyiatul Aisyiyah Getas

Banjarnegara (Humas) – Tidak ada jumlah kehadiran yang mampu memadamkan semangat seorang pendakwah yang tulus. Hal itulah yang tercermin dari sosok Efatun Vaizah, Penyuluh Agama Islam Kecamatan Pandanarum, saat memberikan penyuluhan keagamaan
kepada anggota Nasyiatul Aisyiyah Getas di Masjid At-Taqwa Getas pada Jumat (10/8) pukul 13.30 WIB.

Kegiatan ini dimulai dengan tadarus Al-Qur’an bersama, yang mengalun syahdu di dalam masjid dan menenangkan hati para jamaah. Walau jumlah peserta yang hadir tidak banyak, suasana tetap hangat dan penuh kekhidmatan. Bagi Efa apaan akrabnya, jumlah bukanlah penghalang untuk menyampaikan ilmu agama, sebab satu hati yang tersentuh bisa menjadi wasilah kebaikan yang luas.

Dalam kesempatan tersebut, Efa mengangkat tema yang jarang dibahas namun sangat penting, yaitu “Cara Mendampingi Orang yang Sedang Sakaratul Maut”. Ia menjelaskan bahwa sakaratul maut adalah fase akhir kehidupan di dunia, yang membutuhkan pendampingan bukan hanya secara spiritual, tetapi juga secara emosional dan fisik.

“Pendampingan orang yang sakaratul maut memerlukan kelembutan, kesabaran, dan ketulusan hati. Kita perlu mengajarkan atau mengingatkan kalimat lailaha illallah, memberikan suasana yang tenang, dan menjauhkan hal-hal yang dapat mengganggu ketentramannya,” tutur Efa. Ia menambahkan, menjaga privasi dan kehormatan orang tersebut juga merupakan bagian dari adab yang dianjurkan dalam Islam.

Efa menekankan bahwa anggota Nasyiatul Aisyiyah dapat berperan sebagai garda terdepan dalam membekali diri dengan pengetahuan ini, agar mampu membantu keluarga maupun tetangga ketika berada dalam situasi tersebut. Selain itu, ia juga mengajak para peserta untuk tidak takut menghadapi kematian, melainkan mempersiapkan diri agar dapat mengakhiri hidup dalam keadaan husnul khatimah.
“Kematian adalah kepastian. Yang perlu kita usahakan adalah memastikan diri siap bertemu Allah dengan bekal amal yang terbaik,” ujarnya menutup materi.

Kegiatan sore itu diakhiri dengan doa bersama, memohon kepada Allah agar senantiasa memberikan kesehatan, kekuatan iman, serta keberkahan dalam setiap langkah dakwah. Para peserta mengaku mendapatkan wawasan baru yang bermanfaat, sekaligus motivasi untuk terus meningkatkan ibadah dan kepedulian sosial di tengah masyarakat. Meski sederhana, penyuluhan ini menjadi bukti nyata bahwa dakwah bukanlah soal banyaknya massa, tetapi tentang ketulusan hati dalam menyampaikan pesan kebaikan dan keberanian untuk terus menyalakan cahaya ilmu di mana pun dan kepada siapa pun. (ev)

Skip to content