Meskipun Fardlu Kifayah, Setiap Muslim Harus Menguasai Tata Cara Pemulasaran Jenazah

Banjarnegara –  Bertempat di Aula Balai Desa Giritirta, sebanyak 80 orang mengikuti Pelatihan Pemulasaran Jenazah yang di selenggarakan oleh Pemdes Giritirta Kecamatan Pejawaran, Rabu (26/10). Peserta pelatihan adalah warga masyarakat Desa Gritirta dari unsur tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda dan PKK. Dimulai pukul 09.30 WIB, acara dibuka Camat Pejawaran, Susiyanto.

Ada dua pemateri pada acara Pelatihan Pemulasaran Jenazah ini yaitu Agus Salam AZ dan Alhidayat, keduanya merupakan Penyuluh Agama Islam dari KUA Kecamatan Pejawaran. Sesi penyampaian dibagi dua yaitu materi tentang tindakan yang dilakukan sebelum dan setelah ajal pada muhtadlir (orang yang sedang sakarotul maut) serta praktik memandikan yang disampaikan oleh Agus Salam.  Sementara sesi kedua adalah praktik mengkafani jenazah nyang di sampaikan oleh Alhidayat.

Memasuki sesi pertama Agus menyampaikan materi hal-hal yang harus dilakukan kepada mutadlir sebelum ajal dan setelahnya. Antara lain adalah mentalqin dengan kalimat tahlil. Selanjutnya Agus menyampaikan pentingnya seorang muslim untuk menguasai pemulasaran jenazah.

“Ada 4 hak-hak seorang muslim terhadap muslim lainnya yang telah meninggal yaitu: memandikan, mengkafani, menyolatkan dan memakamkan.  Oleh karenanya kemampuan tata cara pemulasaran jenazah menjadi sebuah keharusan bagi setiap muslim meskipun hukumnya fardlu kifayah.”, terangnya. Setelah memaparkan materi, Agus memutar video tentang tata cara memandikan jenazah mulai dari sesaat setelah ajal sampai dengan jenazah siap untuk dikafani.

Pada sesi berikutnya, Alhidayat langsung mengajarkan tata cara pengguntingan kain kafan dan penmbungkusan pada jenazah. “Materi ini adalah materi praktik, silahkan untuk diperhatikan baik-baik dengan harapan setelah mengikuti pelatihan, semua peserta mampu dan faham dalah pengkafanan,” ujar Alhidayat.

Peserta sangat antusias mengikuti materi, bahkan salah seorang peserta, Sehat Haryanto bersedia menjadi alat peraga jenazah untuk dikafani dengan tidak ada perasaan takut. “Kita semua adalah calon jenazah, terus untuk apa kita takut? Kalaupun ada yang bilang jadi peraga jenazah akan mati duluan itu hanya mitos, karena kematian adalah rahasia Allah SWT. Saya siap menjadi alat peraga agar semua peserta jelas menerima materi praktik ini,” tandasnya.

Kepala Desa Giritirta, Eri Yuliati menyampaikan ucapan terima kasih kepada pemateri. “Kami sangat berterima kasih kepada pemateri dari KUA atas ilmu yang telah disampaikan kepada warga kami. Semoga bermanfaat dan menjadi pahala jariyah”, tuturnya. (az/ak)