MTs N 2 Banjarnegara Gelar IHT Kurikulum Berbasis Cinta

Banjarnegara (Humas) – Sebagai upaya meningkatkan kompetensi pendidik, MTs Negeri 2 Banjarnegara menyelenggarakan kegiatan In House Training (IHT) bertema “Mengintegrasikan Deep Learning Kurikulum Berbasis Cinta” pada Selasa–Rabu (17–18/6). Kegiatan ini diikuti sekitar 60 guru dan berlangsung di aula madrasah.

Kepala MTs N 2 Banjarnegara, Ratna Ayu Kartika Wulan, membuka kegiatan dengan menyampaikan bahwa IHT merupakan bentuk komitmen guru dalam menjalankan amanah dari para wali murid. Ia menegaskan pentingnya semangat belajar yang terus dijaga demi menghadirkan pembelajaran yang berkualitas.  “Dengan kegiatan ini, saya berharap kualitas pembelajaran di MTs N 2 Banjarnegara semakin baik,” ungkapnya.

Perwakilan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banjarnegara, Slamet Wahyudi selaku Plh. Kasi Penmad, turut memberikan sambutan. Ia mengimbau para guru agar mengikuti IHT bukan hanya karena kewajiban, melainkan dengan semangat untuk terus bertumbuh.  “Guru yang mencintai ilmu akan menumbuhkan semangat belajar pada siswa. Maka semangat itu harus terus dipelihara,” tegasnya.

Sebagai narasumber utama, hadir Junaedi dari Widyaiswara Balai Diklat Keagamaan (BDK) Semarang. Ia menyampaikan materi tentang pembelajaran deep learning serta pentingnya mengembangkan kurikulum berbasis cinta. Tak hanya berbicara teori, ia juga menekankan pentingnya kebugaran jasmani bagi seorang pendidik.  “Guru tidak cukup hanya cerdas, tetapi juga harus sehat secara fisik. Kita perlu olah pikir, olah rasa, dan olah raga,” paparnya sembari membagikan tips menjaga kesehatan.

Dalam pemaparannya, Junaedi menjelaskan bahwa pembelajaran deep learning adalah pendekatan yang menekankan pemahaman mendalam, bukan sekadar hafalan. Guru diharapkan mampu menciptakan proses belajar yang menggugah rasa ingin tahu siswa, menstimulasi berpikir kritis, dan membentuk keterampilan pemecahan masalah yang aplikatif. Metode ini sangat relevan untuk menghadapi tantangan abad ke-21 yang dinamis.

Ia juga memperkenalkan konsep kurikulum berbasis cinta, yaitu pendekatan pendidikan yang menumbuhkan rasa kasih sayang, empati, dan kepedulian dalam proses belajar. Menurutnya, guru perlu hadir sebagai pendidik sekaligus pembimbing yang memahami karakter dan kebutuhan siswa secara personal.  “Ketika siswa merasa dicintai dan dihargai, mereka akan belajar dengan bahagia dan penuh makna,” ujarnya menambahkan.(Abr/La)

Skip to content